5




“Lonceng-lonceng Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Tak lama kemudian air laut datang dengan suara bergemuruh”. 

Demikian penggalan catatan naturalis Georg Everhard Rumphius tentang gempa dahsyat disusul tsunami yang melanda Pulau Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674. Catatan itu dibuat Rumphius pada 1675 dan jadi satu-satunya naskah yang diterbitkannya semasa hidup.

Pada 340 tahun lalu, persisnya 17-18  Februari 1674, gempa bumi besar dan tsunami dahsyat melanda Pulau Ambon dan sekitarnya.  Hampir 3.000 jiwa melayang.  Georg Everhard Rumphius (1627-1702) merampungkan laporan atas peristiwa ini, tahun 1675.  Naskahnya tersimpan 323 tahun atau lebih dari tiga abad. Tahun 1998, barulah diterbitkan di Belanda berjudul: Waerachtigh Verhaeel van de Schricklijke Aardbevinge, Nuonlanghs eenigen tyd herwerts, ende voor naemntlijck op den 17, February des Jaers 1674. voorgevallen, In/en ontrent de Eylanden van Amboina.  Anis de Fretes di Amsterdam menerjemahkan naskah tersebut ke Bahasa Indonesia dengan editor Rudi Fofid dkk dari Komunitas Rumphius Ambon, sebagai rasa hormat kepada jasa Rumphius yang kehilangan istri dan anak perempuannya dalam peristiwa itu .

Berikut sepengggal kisah yang memilukan di Maluku saat itu,

Antara Oktober 17-18 tahun 1671, selama ekspedisi armada Cora-Cora sekitar Seram, gempa kuat dan hebat tiba-tiba melanda Kepulauan Lease dan Honimoa. Tidak hanya meratakan Redoubt Velsen di Hatuane, juga meninggalkan Fort Hollandia di Siri Sori menghancurkan kampung itu. Gunung-gunung longsor . Tanah  terbelah setinggi pohon kelapa yang jika pohon kelapa masuk  ke dalam celah, hanya ujungnya yang mencuat keluar. Seluruh pantai Hatuane turun lebih satu  kaki (30 cm), sedangkan batu karang di depan Negeri Paperu tenggelam dan terbelah segitu hebat sampai penduduk asli tidak bisa lagi memancing. Beberapa orang tewas karena ‘gempa bumi mengerikan’ ini.

Sejak hari itu bumi tidak berhenti bergetar selama lebih dari sebulan di Honimoa, gempa dasyat itu terus datang tiap saat dalam tahun itu. Gempa tak hanya mengguncang Ambon dan sekitarnya, guncangan kuat  juga dirasakan di Oma, Baguala dan Benteng Victoria Ambon, namun  tidak sekuat Oma. Gempa pertama yang diingat  pemimpin benteng, terjadi pada 12 Juli 1673 sekitar pukul jam 6 malam, ketika beberapa orang di dalam benteng dan bangunan batu lainnya, merasakan guncangan kuat. pada hari yang sama, di pagi hari, masyarakat mendengar gelegar aneh dan mengerikan bersamaan dengan petir yang sambar-menyambar. Kilat seperti  dilontarkan atap, dan beberapa orang yang menyaksikannya menjadi heran seperti peristiwa tak masuk akal.

Di antara kejadian luar biasa lainnya,ada hal yang juga membuat orang terperangah,  kilat menyambar beberapa pohon di sisi timur benteng, dan hal serupa juga terjadi pada pipa air lambung kapal  pesiar ‘Damack’ .

Petir bagaikan  melemparkan api-api ke dek kapal ‘Fluyt Wimmenum’dan masuk ke laut dengan sendirinya. Ada petir lainnya yang bisa dilihat 30 mil  jauhnya, dan juga berbagai tanda lain yang bisa diamati di langit dari waktu ke waktu. Pusaran angin begitu bervariasi sampai para pelaut yang berpengalaman terkejut keheranan dengan peristiwa alam saat itu.

Namun, apa yang mengerikan itu, tidak dapat  dibandingkan dengan apa yang terjadi selanjutnya. sejak peristiwa alam yang tak menentu saat itu, "Alam pun murka"  bumi bergetar  dan bergemuruh, gemuruh tanah tidak pernah berhenti. kemudian pada 17 Februari 1674, pada Sabtu malam, sekitar pukul 07:30, di bawah bulan indah dan cuaca tenang, seluruh wilayah-  Leytimor, Hitu, Nusatelo, Seram, Buru, Manipa, Ambalau, Kelang, Bonoa (Buano), Honimoa (Saparua), Nusalaut, Oma (Haruku) dan tempat-tempat yang berdekatan lainnya, menjadi sasaran kemurkaan alam. Bumi bergetar dengan hebatnya. dari beberapa tempat diatas Leytimor dan Hitu yang paling merasakan hebatnya gempa dasyat itu.  Masyarakat saat itu pun yakin Gempa besar yang mengantam separuh Maluku, adalah kemurkaan Tuhan. mereka bahkan sangat yakin, hari itulah menjadi hari terakhir umur Bumi. Kiamat telah datang.

Lonceng-lonceng Benteng Victoria di Leytimor berdentang sendiri, dan orang-orang yang beraktifitas terpelanting dan jatuh terguling. Tanah berombak seperti bergeloranya Samudra. Sebanyak 75 bangunan milik orang Cina, atau bangunan batu kecil dan rumah besar (juga terbuat dari batu) jatuh ke bawah, menjadi puing-puing, menewaskan 79 orang, di antaranya dengan istri ‘Koopman’ GE Rumphius, bersama dengan putri bungsunya, janda Sekretaris Johannes Bastinck, dan empat orang Eropa. Sebanyak 35 orang lainnya luka serius pada lengan, kaki sampai kepala.  Saat Gempa dasyat menggelora, masyarakat kota Ambon sedang asyiknya menonton atraksi (Barongsai) dalam perayaan  tahun baru imlek.

Air naik hingga ketinggian 4-5 kaki (150 cm), dan beberapa sumur penuh dengan cepatnya sehingga orang bisa meraup air dengan satu tangan, namun itu tak berlangsung lama, air sumur pun turun dengan cepatnya . Pantai timur Sungai Waytomme (Way Tomu) terbelah dan air muncrat , hingga 18-20 kaki (6 meter) tingginya, melemparkan pasir becek  kebiruan.

Semua orang berlari ke tempat lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Di dataran tinggi itu,  mereka bertemu gubernur dan beberapa pimpinan  perusahaan besar.  Gubernur (yang merasakan itu adalah akhir dunia)  lalu memimpin doa bersama masyarakat di bawah langit yang cerah.

Mereka terus mendengar bunyi seperti tembakan meriam dari jarak jauh,  terutama dari utara dan barat laut, menunjukkan bahwa beberapa gunung bisa meledak atau seperti gunung runtuh.
Ilustrasi
Dan itu terjadi di sore hari tepatnya di Gunung Wawani , dan di Ceyt (Seith).  Gempa keras berlanjut sepanjang malam, sehingga tidak ada yang bisa tenang lebih dari setengah jam. Sebagian besar guncangan datang dari dalam tanah seperti sinar  yang memancar telapak kaki, dan masyarakat saat itu dapat mendengar jelas air yang mengalir di bawah tanah.

Dari peristiwa gempa itu, Tuhan menunjukan kuasanya, kisah  ajaib pun datang setelah gempa. Tiga hari setelah Maluku dilanda gempa dahsyat, ada seorang  anak etnis Cina, berusia sekitar satu bulan, ditemukan masih hidup dipelukan ibunya. dia ditemukan dibawah reruntuhan bangunan. sayangnya, ibu yang berusaha melindungi anaknya itu, tak terselamatkan.

Pada malam setelah gempa, orang orang yang terkubur di bawah reruntuhan, diselamatkan. beberapa diantaranya ditumukan masih bernyawa, di antaranya seorang anak Papua.  Saat gempa, anak Papua itu berlari seolah-olah ia telah melakukan sebuah kesalahan, dan akan dihukum. Bangunan batu tampak rusah parah, hingga pemiliknya juga tak berani menghuninya.  orang-orang menyelamatkan diri, menghabiskan malam di bawah langit cerah, dinaungan gubuk kecil. Gereja Malayu rusak berat, dan kacau. Pilar yang paling selatan bengkok keluar , dan bagian belakang mimbar telah robek, sedangkan balok atas  pecah. Selain itu. di pekuburan,  beberapa batu nisan  runtuh, sementara pintu pemakaman itu sendiri ambruk , menghalangi pintu masuk.

Mimbar gereja  tidak stabil dan longgar dari tangga spiral, sehingga sandaran tangan, di mana jam pasir bertumpu, keluar  dari kursi menghadap ke depan mimbar. Seorang pendeta sebelumnya telah mencoba memindahkan mimbar yang rusak, tetapi tak mampu melakukannya. Gereja tidak bisa lagi digunakan untuk pelayanan, hal yang sama juga terjadi pada aula benteng. Sehari setelah terjadi gempa bumi, masyarakat melihat kondisi Gereja seperti habis dirampok, berantakan dimana mana.

Namun, kondisi yang terjadi pada Gereja tak menyurut niat masyarakat melantunkan doa pada sang pemberi hidup, aktifitas peribadatan terus dilakukan, pengunjung dan semangat beribadah seusai gempa bahkan lebih besar dari hari hari sebelum gempa.  Ambon bisa mendengar nyanyian Mazmur dan doa didalam Baileo sepanjang malam.  Bengkel di dermaga telah runtuh  hal  yang sama terjadi pada gudang kayu untuk peralatan dan barang curah di samping sungai Way Tomo.

hal sama  juga terjadi di  Balai Kota dan Rumah Sakit (kedua bangunan batu). Rumah batu di Way Batu Gajah  (Sungai timur selatan dari Kota Ambon) yang digunakan sebagai tempat cuci pakaian, juga ambruk dan yang tersisa hanya  puing-puing.

Meskipun kejadian itu hanya satu orang yang tewas, ada seorang wanita yang dipenjara  karena berzinah, juga tidak teluka parah. keberuntungan tidak mampir pada  si kecil putri  gubernur yang memiliki luka di sisi keningya sampai ke tengkorak.

Beberapa kapal-kapal layar kecil dan arumbae (tipe perahu lokal) milik penduduk lokal, yang saat kejadian berada di mulut sungai (Way Tomo)  itu, dilemparkan bagian hulu dekat jembatan, sedangkan satu arumbae kecil dilingkarkan jalanan. Jembatan itu juga mulai goyah.

Usai kejadian, sejumlah orang mengatakan bahwa kabinet , rak buku, lemari dan mebel, mereka telah jatuh ke depan dan rak piring dengan porselen terlepas dari dinding.terlempar hingga berkeping-keping.
Suatu hal yang aneh terjadi pada tempayan minuman keras, itu di teras sebuah rumah khusus, dan dipindahkan 3 – 4 kaki, tanpa pecah atau jatuh.

Gempa ini juga sangat dirasakan di pegunungan Leitimor. Tujuh rumah  ambruk di Nacau (Naku) dan beberapa batu-batu besar jatuh dari pegunungan tinggi, hampir menimpa orang,  namun hal itu tak menimbulkan kerusakan apapun.
Sebuah pohon kelapa jatuh antara seorang pria dan istrinya dan dua anak-anak saat mereka sedang makan, hanya makanan itu hancur tetapi tidak ada kerusakan lainnya, kecuali Istri itu luka ringan di pinggulnya.

Di Oma, dua gunung batu kecil longsor ke laut. Ada batu lain, begitu besar yang berpindah dari tempatnya. saking besarnya hingga 7 orang pun tak mampu memindahkannya. batu besar itu berpindah dari tempatnya dan  meninggalkan lubang berbentuk sumur. Jalan antara Ema dan Soya retak di 23 tempat, lebarnya ada yang 2 -3 kaki.

Di Negeri Hutumuri, tidak jauh dari pantai, air mancur dari air laut memancar tinggi ke udara, melalui sebuah lubang yang baru digali.
Tali-tali kapal yang ada di jangkar, menggendor dan terdengar seperti  derak. Juru mudi menyatakan bahwa meriam dan kereta mereka diangkat dari dek dan diturunkan tanpa terbalik. Lainnya yang berada di sekoci ‘Vlissingen’ sementara berlayar dari Leitimor selatan dekat Tanjung Nusanive, melihat gelombang tinggi menghantam kapal seperti menabrak karang.

Seorang budak Kristen, yang disebut Simon Osko dari Goa, yang dimiliki VOC, tetapi bertanggung jawab kepada pengurus gereja (yang telah memerintahkan dia untuk pergi menyalakan lilin di Ruang Besar dari Benteng Victoria untuk ibadah ) menyatakan, dengan keheranan, sekitar satu jam sebelum gempa, ia melihat seseorang dengan wajah  dan tangan yang putih  berdiri di ruang besar, berdiri di mimbar, berbalik ke arah tenggara dengan buku seperti kuarto folio di tangan kirinya dan lilin putih terbakar di sebelah kanan. sosok itu memegang buku dengan lekatnya seolah-olah ia sedang membaca. Dia mengenakan baju hitam panjang, yang tersampir di tepi kursi, ia memiliki sebuah mahkota duri di kepalanya, dengan duri yang setengah jari panjang dan memiliki warna lapis lazuli gelap. Apapun kebenaran kita menyerahkan kepada putusan pembaca, tapi dia menceritakan kisah ini berkali-kali.

Di pantai Hitu lama sebelum datangnya  gempa, orang melihat dua garis di langit, seperti rangka dari rumah, membentang dari Luhu ke Seith, atau dari Seith di Selatan ke Utara. Gempa ini berdentum keras seperti dekat  Benteng,  dan diikuti oleh air laut yang menggunung, muncul dengan gemuruh besar.

Kami mendengar gelombang raksasa ini berasal dekat Lebalehu Tua. Gelombang tiba-tiba naik kemudian jatuh ke laut, terbagi menjadi 3 bagian, 2 yang membanjiri negeri-negeri, sementara yang ketiga melesat menuju laut, menghanyutkan pohon-pohon, rumah dan orang yang berada di jalan. Kerusakan yang diderita  dikawasan pesisir akibat "ombak besar itu" membunuh  lebih dari 2.243 orang, termasuk 31 orang Eropa, sehingga  total korban saat Tsunami menerjang berjumlah 2.322 orang .

Berikut laporan terjadinya gempa dahsyat yang diikuti Tsunami, mulai di titik paling barat Desa Hitu.

Larike
Setelah gempa bumi, tinggi air adalah 2 kaki.  disekitar  Redoubt (Rotterdam) air naik 3 kali dan turun. air juga menghancurkan Orembay Perusahaan dan Prahu berkeping-keping.

Nussatelu
Air datang tiba-tiba setelah pertama surut  sejauh arah Orien. orang orang dipantai dapat melihat dasar lautan, karena saat gempa air surut hingga hampir tak ada lagi lautan di tepian pantai. Kemudian air kembali 3 kali dari 2 arah di sepanjang bagian terendah dari pulau, dan dua dinding air bertabrakan dengan suara bergemuruh.

Orien  (Ureng)
Mereka mendengar, seperti yang didengar di tempat-tempat lain di Hitu, raungan mengerikan di udara, seolah-olah ada tabrakan benda keras satu sama lain. Setelah air  naik, air laut pun surut. sampai orang bisa melihat dasar laut ke arah Nusatello, dan tampak seperti Laut menghilang begitu saja. Air tidak masuk kubu pertahanan, meskipun dikelilingi Barikade. Perlu dicatat bahwa seorang wanita, yang disebut Mina van Houamohel diselamatkan oleh seorang tentara yang sedang melakukan perjalanan dari Ceyt ke Hila. Dia mengatakan bahwa dia dan anaknya dari empat bulan telah ditarik ke laut oleh banjir. Dia berhasil meraih balok kayu saat tengah malam.  Ular ular "mengepungnya" dan anaknya. Dia mengusik Ular dan ularpun menjauh darinya dan anaknya dan meliliti balok, hingga dia dan  anaknya diselamatkan.

Lima (Negeri Lima)
Air datang  dari arah Lebelehu  dekat Redoubt (Haarlem) seolah-olah sedang mendidih. Ini muncul dengan batu, lumpur dan pasir dan menutupi segala sesuatu. termasuk beberapa batu  yang 2 atau 3 Pria tidak dapat menggerakannya. batu itu dilemparkan oleh gempa ke lantai pertama  Redoubt, dan merobohkan Galeri dan Sentinel yang sedang bertugas di sana. Istri si sersan tersapu oleh air dan tersangkut  di pohon lemon manis sekitar 20 depa dibelakang  Redoubt. Takut gempa semua Tentara (kecuali untuk satu di penjara) berlari ke lantai bawah dari Redoubt, mereka menyelamatkan diri di seluruh tempat, satu di atas pohon, yang lain di atas rumah, yang lain berlari ke tempat yang lebih tinggi. Sersan itu hanyut  tapi saat dia dibawa air, dia menemukan sesuatu yang kokoh untuk bertahan. Seorang tentara melompat mencengkram  kaki sersan. Putri kecil sang sersa tersapu air ke laut, dia memanggil Pastor untuk meminta bantuan. Tapi saat ingin menyelamatkan putrinya, air dengan derasnya menghanyutkan putrinya hingga tenggelam. Seorang anak Slave tertentu tua sekitar enam bulan yang terbawa oleh air, tapi dia ditemukan, menangis tapi terluka di pantai setelah banjir dan diselamatkan.

Bubungan terhempas . Bagian dari Binau juga hanyut, dengan  86 orang hilang, termasuk 39 yang dalam perjalanan  ke Hila, untuk membantu  pembangunan Baileo baru untuk inche Tay. Mereka semua meninggal dan Sersan paling merasa kehilangan .  dia kehilangan 12 orang  keluarganya.

Ceyt  (Seith)
Berikut air naik ke jendela rumah. sersan dan orang-orang lain yang bekerja untuk Perusahaan, kehilangan banyak anggota keluarga. Tapi Ambon yang paling menderita  karena Desa Ceyt, Lebelehu dan Wassela benar-benar hanyut, dan di Layu 6 rumah hancur. Semua itu bersamaan dengan hilangnya  619 orang warga Ceyt. banyak orang terluka parah, termasuk 29 dari Hautuna yang sedang dalam perjalanan ke Desa itu .  Desa Hautuna sebenarnya tidak merasakan dampak yang parah karena berada di dataran tinggi. Banyak dari mereka yang tewas melarikan diri ke Missigid (masjid) ketika mereka merasakan gempa pertama. mereka  berpikir itu adalah kiamat, dan  berdoa di masjid adalah cara mendekatkan diri pada sang kuasa. saat berada di (Masjid) sana mereka tersapu ke Laut (karena masjid berada di dataran rendah). Empat hari setelah ini terjadi, ada gempa lain yang lebih besar.
Sekitar jam 11 malam,  suara siulan tinggi yang memekakan telinga dan mereka berpikir bahwa Iblis sedang bermain Flute nya. Tak satu pun dari Pengawal ketakutan telah membuat kebisingan ini sementara yang lain berpendapat bahwa uap bawah tanah telah berhasil. Seorang bayi, dengan umur 7 hari  dari desa Wassela , ditemukan hidup 3 hari setelah gempa tersebut. dia ditemukan pada kelapa, namun malang nasib ibunya. dia tewas tenggelam.

Hila
Begitu bencana datang,  seluruh Garrison, beberapa menyelamatkan diri di lantai atas berpikir mereka akan lebih aman di sana. Tapi sayangnya tidak ada yang bisa menduga bahwa air akan tiba-tiba naik ke Galeri Benteng (Amsterdam). air meninggi hingga atap benteng dan menyapu Desa sekitar Benteng, kecuali  dua rumah yang masih tinggal berada di tempat. kejadian itu telah merenggut nyawa 1461 orang. Di antaranya Istri Kepala-subaltern Van Zijl  dan dari Surgeon Ephrain Graumanski dengan 4 anak-anaknya serta Abdul pengumpul kain tua, yang dikenal sebagai Intche Tay, dan Kepala kampung Latin di Hila, bersama dengan 21 anggota keluarganya. Nasib serupa menimpa Orang kaya yang dikenal sebagai Bulang, yang memerintah Kampong Latin atas nama Intche Tay .
Juga  Orang kaya dari Kaytetto, serta beberapa pati dari Desa lainnya. Banyak Tentara terselamatkan dengan berpegangan tangan dan kaki mereka.   Sebuah grindingwheel yang telah balik Fort ditemukan 26 kilometer dari lokasi semula. Sebuah logam Masjid dari rumah Intche Tay itu juga terlempar lebih dari 60 yard, sedangkan sepotong batu berukuran besar dengan panjang tiga setengah kaki  dan lebar dan 8 inci tebalnya, ditemukan 41 kilometer dari tempat asalnya, tepatnya di belakang Fort Amsterdam.
Dalam radius dari Musquet-shot (200 m) sejumlah besar mayat yang berserakan, baik terdampar oleh Gelombang atau terjebak dalam puing-puing, bau menusuk sebelum mereka berhasil dikuburkan.

Hitu Lama
Diperkirakan bahwa di sini air naik ke sekitar 10 kaki di atas tingkat normal, menghantam rumah dari Sersan dan rumah Perusahaan lainnya di bawah pemukiman. Sersan telah hanyut, tapi terjebak di pohon. Di sini, satu perajurit dan 35 orang Ambon kehilangan nyawa mereka.

Mamala
Sekitar 40 rumah di Desa ini tersapu, tapi tidak satu orangpun meninggal. Di Liang, Tulehu dan Way rumah tetap utuh dan orang-orang di sana tidak aman, meskipun mereka merasakan badai dan melihat air  naik lebih tinggi dari normal.

Thiel  (Tial)
Tanah ini terletak sedikit di bawah Desa yang telah disebutkan sebelumnya di bagian timur Hitu ini, maka kedua Masjid dan Imam Muslim Baileo yang terbawa oleh air, bersama dengan rumah biasa. Laut Hitu telah menggunduli semua pohon, terutama antara Negeri Lima dan Hila. Air naik antara desa Hitu dan Ceyt ke atas bukit-bukit sekitarnya, diperkirakan sekitar 50 atau 60 depa tingginya.  apalagi antara Ceyt dan Lima (Negeri Lima), memusnahkan semua promonteries berbatu dan pantai sirap, kecuali tempat di mana terletak perbukitan.Semua pohon antara Hila dan Negeri Lima hancur, termasuk perkebunan berharga seperti pohon cengkih yang telah mulai panen kedua pada 2 atau 3 tahun terakhir.  Perkebunan dari Mamala, Eli, Senalu, Kaitetu, Ceyt, Lebelehu dan Negeri Lima juga hancur dan hanyut.  perkebunan ini baru dibangun satu setengah tahun yang lalu, sebagai layanan alternatif untuk tenaga kerja tahunan pada Perusahaan Cora-Cora.

Hanya mereka di Hausihol, Hitu Lama dan Wackol selamat, karena mereka terletak di pebukitan. hal serupa juga terjadi di  sekitar Lebalehu, wilayah yang terkenal karena pasarnya yang menjadi tempat pertemuan Muslim. Tak ada pantai di daerah itu,  yang ada hanya tebing sangat curam. kondisi yang sama juga ada di antara Ceyt dan Hila. Termasuk Negeris Nukunali, Taela dan Wawani, lokasi ini tak ada  dermaga di mana kapal dapat menambatkan jangkar.

Massa air gelombang dibagi menjadi 3 bagian. Satu pergi ke timur Ceyt dan Hila, yang lain Barat ke desa-desa Lima dan Orien, sementara yang ketiga pergi seberang langsung menuju Laut, melewati Tanjung Sial. Air berbau begitu mengerikan, orang-orang di kapal dekat  pantai menjadi sakit. air begitu kotornya.

sejumlah rumah di sekitar Fort Amsterdam terseret, terutama satu rumah yang berdiri agak terpisah. air  menghanyutkan semua rumah di Desa, dan dibawa ke barat dan selatan Fort Amsterdam. Ke timur di Senalo  banyak pohon tumbuh dan banyak semak-semak, air datang dan pergi 2 atau 3 kali, kadang-kadang bahkan lebih .
Gelombang pertama datang dengan tenang, kedua menghancurkan segalanya, dan yang ketiga membawa pergi reruntuhan, sehingga tempat di mana Negeri berdiri benar-benar dikosongkan dari rumah dan pohon-pohon.  Semua, atau sebagian  kapal besar, kapal-kapal kecil, Sampans dan Prahus, hancur dan hanyut.
Ikan menangis seolah-olah mereka adalah manusia, yang mungkin disebabkan karena banyaknya Buaya yang tinggal di sana.
Penangkap Ikan terlemparkan di pantai, beberapa sejauh Gudang di Hila, namun saat itu, tak ada hasrat untuk mengambil Ikan yang terdampar.  jika seseorang ingin makan ikan itu,  ternyata rasanya hambar seperti kayu dan harus dibuang. Sapi dan Babi liar banyak  hanyut ke Laut.

keja dian itu sebagai hari penghakiman Tuhan Allah dimana DIA memutuskan siapa yang akan mengampuni dan siapa Dia akan dihancurkan, tanpa memperhatikan kekuatan atau kelemahan.

Penduduk lokal, sebagian besar dari pantai Hitu begitu ketakutan, mereka melarikan diri ke pegunungan. Banyak dari mereka berdiam  di sekitar Fort Amsterdam, mereka begitu miskin dan membasuh beras perusahan dengan  air laut. Ketika Gubernur Antonio Hurdt belajar dari ini, ia memerintahkan distibution  untuk memberikan beras kepada orang miskin.  yang beberapa datang untuk mengumpulkan tetapi yang lain tidak. Banyak kaya menjadi miskin orang miskin dan banyak menjadi kaya.
Sungai, baik dari hilir maupun ke hulu di Ceyt tidak bisa lagi digunakan. Air telah berubah tebal dan keruh dan rasanya begitu busuk. warga disana merasakan kesengsaraan, mereka tak hanya  meratapi hilangnya teman mereka, tetapi juga nasib mereka sendiri.
Longsor besar dari 2 pegunungan tinggi di  Wawani dan Manusu, longsor melwati Ceyt, dan menurunkan ribuan kubik  tanah ke dalam lembah hingga menghalangi sungai, sehingga menciptakan sebuah danau di sana, yang suatu saat akan berbahaya saat meluap.

Seram Kechil atau Hoamohel
Gelombang pasang di Tanjung Sial menderu  dari Laut dan  kerusakan lahan juga ditimbulkan di sana. batu di Pantai sebelah barat batu  berubah menjadi pasir sementara sebagian besar di sisi timur dari Point dekat Way Putih menghilang begitu saja.  Negeri Muslimin  dekat Fort Overburgh di Luhu tersapu, bersama dengan semua Perahu.  disini air 3 depa di atas normal. Hook datar Cahula pohon benar benar gundul, sementara tempat tinggal dari Pengawas perkebunan Sagu Perusahaan lenyap. Pengawas hanya mengambil barang dan senjata ketika  banjir surut.

Dalam Bight dari Tanuno, tak satupun orang tewas setelah Gereja Kristen dan setengah jumlah rumah diamuk gempa. Tampaknya tsunami yang datang ke daerah ini hanya sekali, sedangkan laut antara Hoamohel dan Hitu hanya terlihat riak riak kecil dan pantai yang cukup tenang. Hal ini dibuktikan oleh beberapa orang yang berada di laut tidak satupun mendengar gempa besar di daratan.

Buro, Amblau, Manipa, Kelang dan Bonoa
Semua tempat-tempat ini juga merasakan Gempa . bahwa air juga naik dan tiba-tiba memenuhi parit sekitar  Manipa. Tsunami ini melenyapkan kurang lebih  40 rumah , tetapi saat itu tak ada warga. Gelombang besar terjadi juga disana , Air naik sampai 6 kaki di Perusahaan di Salati pada pulau Kelang, tapi itu tidak ada kerusakan.

Oma Honimoha dan Nusa-Laut
Gelombang juga sangat keras di sini dan bumi terus bergerak sepanjang malam. Pada Oma , setelah gempa pertama, Gelombang terus selama 24 jam, air naik 6 kaki di atas normal.

Paso Baguala
Air yang berasal dari Castle Victoria, untungnya tidak meluap ke tanah Paso.  hanya mencakup satu sisi. Air dari Castle hanya menyentuh  rumah pertama dekat Innerbay. Ini adalah berkat yang besar, karena jika air menyapu lebih jauh akan menghancurkan segala sesuatu, bahkan Redoubt.
Bumi retak di wilayah sekitar Baguala dan Little Hutumury.
Dari Banda Neira ada tiga berita gempa,  Air naik , tapi tidak ada kerusakan.
Setelah salah satu tahun, suasana duka menyelimuti seluruh Provinsi Maluku. gempa  dan gemuruh bawah tanah tidak pernah berhenti, suara terdengar yang menyerupai Cannon api , lainnya merasa seolah-olah Kuda dan Carriages sedang bepergian . Api (petir) di langit juga tidak menghilang. Pada hari Minggu, tanggal 6 Mei, setelah suasana telah tenang kurang lebih  14 hari, ada 2 gempa besar lainnya terjadi  sekitar 7 jammalam hari, dan itu terjadi saat  hujan badai.

Orang melihat api di Timur yang membakar dari dsar sampai atasnya. api (petir) itu datang dan pergi dengan hujan. Dan pada hari Kamis setelah itu,tepatnya tangggal  10 Mei, jam  9 malam, 5 atau 6 tentara yang sedang mengobrol dan duduk di dekat pertahanan luar dari Puri Victoria (di kota Ambon), melihat di langit Timur api putih yang kecil kemudian membesar. dan  berbentuk seperti tiang. Tempat di mana langit ini terlihat adalah sangat jelas, sementara di tempat lain itu ditutupi dengan awan mendung tipis. (MT/Net)



Posting KomentarBlogger

  1. bermanfaat sekali buat anak cucu biar z lupa sejarah

    BalasHapus
  2. Dangke su buat katong lebih mengenal sejarah katong orang maluku....

    BalasHapus
  3. Makasih banyak tuang e bt su dapa akang carita yg sebenarnya

    BalasHapus
  4. Terima kasih, sejarah yg luar biasa

    BalasHapus

 
Top