2
Kedatangan orang Maluku di Belanda Tahun 1951

Mollucastimes.Com- Mungkin pembaca pernah dengar marga -marga orang Maluku di Belanda? ataukah pembaca Mollucastimes.Com pernah mendengar nama, Carolyn Lilipaly, Daniel Sahuleka (selebriti/penyanyi),  Giovanni van Bronckhorst (pesepak bola), Jeffrey Leiwakabessy (pesepak bola), Jos Luhukay (pelatih sepak bola), Sharita Sopacua (mantan Miss Universe Belanda), Simon Tahamata (pesepak bola) ? 

Mereka adalah orang orang Maluku yang tinggal di Belanda dan mungkin telah menjadi warga negara negeri kincir angin itu.  Pasti pembaca yang belum tahu, akan bertanya tanya kenapa sampai orang Indonesia berdarah Maluku banyak berdomisili di Belanda. 

Bagi yang belum pernah tahu, ini sejarah "Migrasi" orang Maluku ke Belanda.  

Pada 1951, sekitar 12.500 orang Maluku diangkut dari Jawa ke Belanda. Mereka sebagian besar prajurit yang telah bertugas di tentara kolonial Belanda (KNIL), dan anggota keluarganya. Setelah penyerahan kedaulatan dan pembubaran KNIL, pihak Indonesia, Belanda dan tentara Maluku tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai demobilisasi KNIL asal Maluku. Akhirnya, diputuskan untuk memindahkan tentara Maluku sementara ke Belanda. Ternyata situasi saat itu bagi sebagian orang Maluku (KNIL) sangat tidak mungkin untuk kembali ke Indonesia.

Maluku terkenal dengan kakayaan rempah-rempahnya dan menjadi produk ekspor Maluku selama berabad-abad, namun setelah harga rempah-rempah anjlok (di akhir abad kesembilan belas), tenaga kerja  menjadi produk "ekspor" utama. Orang Ambon, atau Maluku menjadi bagian dari itu, mereka dipekerjakan di seluruh Kerajaan Hindia-Belanda sebagai pegawai negeri, guru, asisten pendeta atau prajurit tentara Hindia Belanda (KNIL). 
Medal Rememberence Medal arrival
 of the Ambonese in the Netherlands

Maluku dalam KNIL memegang posisi istimewa untuk waktu yang lama. Mereka berjuang bersama
Belanda melawan Jepang selama Perang Dunia II. selama perang mempertahankan kemerdekaan banyak orang Maluku yang bergabung dengan KNIL. Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia, KNIL dibubarkan. Para prajurit Maluku ditawari pilihan untuk dipindahkan ke Belanda atau bergabung dengan tentara Indonesia yang baru. Beberapa memilih pilihan yang terakhir, sementara yang lain menolak untuk membuat pilihan.
akhirnya sekitar 12.500 orang Maluku (KNIL) yang menolak opsi bergabung dengan TNI, bertolak ke Belanda dan tiba di Belanda pada tahun 1951. 

Kedatangan mereka adalah solusi sementara untuk masalah-masalah politik di Indonesia yang berkembang setelah penyerahan kedaulatan dan pembubaran tentara kolonial Belanda (KNIL).
karena diperkirakan hanya sementara, orang-orang Maluku diberi tempat tinggal di kamp-kamp terpencil. Namun ternyata, harapan untuk kembali ke Indonesia tidak mungkin terjadi. 

Dari tahun 1956 dan seterusnya, Belanda membuat kebijakan yang ditujukan untuk pengintegrasian komunitas Maluku.  Aturan swadaya/The self-support rule diperkenalkan dan kawasan baru dibangun untuk komunitas Maluku.

KNIL Ambon di Belanda

Tahun 1960-an dan 1970-an merupakan masa-masa radikal. Kasus pembajakan yang terjadi menyebabkan banyak ketegangan antara komunitas masyarakat Maluku dan Belanda. Pada 1980-an, fokus bergeser terhadap isu-isu sosial seperti pekerjaan, kesejahteraan dan pendidikan.

Selama beberapa dekade terakhir, semakin banyak orang Maluku yang sudah mulai mengunjungi daerah asalnya di Maluku. Ini telah memberikan dorongan baru bagi pengalaman tradisi Maluku di Belanda, khususnya di kalangan pemuda generasi ketiga dan keempat.

Setelah beberapa tahun, pemerintah memutuskan bahwa Maluku harus dapat menunjang keluarga dan komunitasnya secara finansial.
Pada saat itu, banyak dari mereka yang sudah bekerja, kebanyakan di pabrik-pabrik. Aturan swadaya didirikan pada tahun 1956. Aturan tersebut menyatakan bahwa orang harus mampu menghidupi diri sendiri. Jika tidak berhasil dan tetap menjadi pengangguran, pemerintah (Belanda) akan memberikan dukungan.

De Kemp

Salah satu simbol dari aturan swadaya adalah dapur individu yang mengambil alih tempat dapur umum. Masyarakat Maluku meluncurkan protes keras terhadap aturan swadaya. Mereka menganggap pemerintah (Belanda) bertanggung jawab atas kehadiran mereka, dan dengan demikian juga untuk biaya yang dihasilkan.

Pada akhir 1950-an, pemerintah (Belanda) memutuskan bahwa masyarakat Maluku harus mengintegrasikan lebih penuh ke dalam masyarakat Belanda. opsi kembali ke Maluku tidak lagi diharapkan.
Bagian dari kebijakan baru ini memindahkan komunitas Maluku dari kamp ke bangsal baru. Integrasi Maluku adalah untuk mengambil tempat dalam kelompok dan sebagai warga negara Belanda. Bangsal dibangun di desa-desa dan kota, sehingga memungkinkan untuk kontak lebih lanjut antara Maluku dan Belanda.
Appingedam Maluku adalah bangsal pertama yang selesai. Lebih dari enam puluh bangsal juga dibangun di tahun-tahun berikutnya. Menutup kamp-kamp memang tanpa masalah berarti, namun membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Protes Di Depan Kedutaan Indonesia

Pertempuran masih berlangsung di Maluku sampai dengan tahun 1960, oleh Republik Maluku Selatan (RMS), dipimpin oleh "Presidennya" dr. Chr. R.S. Robbert Steven Soumokil, Esq. Dia ditangkap pada tahun 1963 oleh Tentara Nasional Indonesia.
Setelah eksekusi pada tahun 1966, J.A. Manusama B.Sc. mendirikan pemerintahan di pengasingan dan berhasil menggantikan Soumokil sebagai presiden.
Pelaksanaan eksekusi Robbert Steven Soumokil pada tahun 1966 menyebabkan tindakan kekerasan pertama oleh pemuda Maluku di Belanda, yang membakar kedutaan besar Indonesia di Den Haag. protes Lebih lanjut dalam pertempuran untuk kemerdekaan RMS (Republik Maluku Selatan) pun terjadi di tahun-tahun berikutnya. 

Paling dikenal adalah pendudukan kediaman duta besar Indonesia di Wassenaar pada tahun 1970, dan pembajakan kereta api di dekat Wijster pada tahun 1975 dan De Punt pada tahun 1977. 

Dalam tahun-tahun berikutnya langkah-langkah diambil untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Beberapa lembaga Maluku juga didirikan.Pada awal 1980, negosiasi dimulai antara pemerintah dan Badan Persatuan (BP), organisasi terbesar Maluku.
Negosiasi ini akhirnya menyebabkan “Pernyataan Bersama” yang ditandatangani pada tahun 1986 oleh Perdana Menteri dan Pendeta Metiarij Lubbers, Ketua BP.
Generasi pertama orang Maluku diberi medali peringatan (Medal Rememberence Medal arrival of the Ambonese in the Netherlands) dan tunjangan tahunan.
Pengangguran, penyalahgunaan narkoba dan masalah perumahan, dibahas dan diatasi. Pembangunan  Maluku Historical Museum juga dimungkinkan.

Karena banyak orang Maluku ‘tidak mempunyai negara’, mereka tidak dalam posisi untuk bepergian ke Maluku selama bertahun-tahun. Situasi ini mulai membaik pada tahun 1980, meningkatnya jumlah orang Maluku yang kembali ke desa asal  mereka. Di Maluku mereka menemukan budaya Maluku yang telah banyak melalui perubahan dalam lima puluh tahun terakhir. Ini merupakan suatu pengalaman tersendiri dalam tradisi Maluku di Belanda.

Hubungan antara Maluku di sana-sini tetap kuat. Berbagai proyek telah dimulai untuk membantu desa-desa setempat dengan membangun sekolah atau  membangun sarana air. Ketika perang saudara pecah di Maluku pada tahun 1999, bantuan untuk pengungsi banyak berdatangan dari Belanda, dan itu atas prakarsa orang Indoensia berdarah Maluku di Belanda.  (MT)

Berikut Videonya :






Posting KomentarBlogger

  1. Bangsa Maluku yang telah menjadi tentara Belanda (KNILL) diberangkatkan ke negeri Belanda setelah akhir peperangan diantara Belanda dengan Java/Indonesia. Beland mengangkut semua KNILL ke negeri Belanda dengan memberikan harapan dan janji bahwa Belanda akan mengirim bangsa Maluku kembali ke Maluku, dan sementara itu di Maluku terjadi peperangan diantara TNI dengan rakyat Maluku di Ambon dan sekitar kepulauan Maluku. Belanda tidak mengirim kembali KNILL ke negerinya disaat TNI menginvasi negara Maluku. Belanda telah bersekongkol dengan Jawa/Indonesia, dimana Belanda telah memberikan bantuan kepada TNI dengan arteleri berat (kapal perang dan lain lain). Pencentusan proklamasi Maluku secara defacto dejure tidak disukai oleh pemerintah Jawa/Indonesia, oleh karena itu Konfrensi Meja Bundar di Den Haag di tahun 1949 adalah persetujuan Jawa/Indonesia dengan pemerintah Belanda untuk bersama sama menikmati kerjasama dalam menggali sem7a kekayaan alam Maluku sampai pada anak cucu mereka di masa mendatang hingga kini, sebagaimana perjanjian itu dibawakan oleh Muhammad Hatta.
    Manusama adalah anak angkat dan bukan anak asli darah Maluku. Manusama adalah utusan pemerintah Jawa/Indonesia dalam politik persekongkolan diantara pemerintah Jawa/Indonesia dengan Belanda, sehingga Manusama dapat mendirikan pemeri tahan transisi secara legal oleh Belanda tetapi hal tersebit adalah palsu dan pupet mereka.
    Jangan terlalu manipulasi keadaan sejarah yang sebenarnya, sebab kalian semua telah melanggar hukum internasional yang berkaitan dengan HAM.

    Berita link dibawah ini secara tanggung jawab beredar ke seluruh rakyat internasional untuk dilihat permasalahan negara Maluku yang sah dan harus ditangani
    https://m.facebook.com/247814661995010/photos/a.247824255327384.49069.247814661995010/247824258660717/?type=3&source=44&ref=bookmarks&notif_t=group_comment_mention

    BalasHapus
  2. dimana saya bisa mendapatkan artikel atau orang2 indonesia yang di asingkan ke Ambon saat Belanda berkuasa di sana ..?

    BalasHapus

 
Top