5
Ilustrasi

“Dia didatangi sosok manusia supranatural (warga Bati) yang merubah wujud menjadi seekor musang atau dengan bahasa masyarakat setempat disebut Tinggalong,”

Mollucastimes.Com- Indonesia kaya khazanah budaya. Belasan ribu pulau dengan ribuan suku bangsa yang mendiaminya pastilah menghasilkan juta kisah dan legenda. Kepercayaan dan mitos setiap cerita itu memiliki kekayaan meski kebenarannya juga kerap kali diperdebatkan.
Soal benar atau bohong memang bukan yang utama, namun kepercayaan itu tetap hidup dan eksis karena ada masyarakat yang mendukungnya

Masyarakat yang mendiami Pulau Seram, di Maluku percaya dan menyakini, pulau mereka ada penghuni ‘lain.’ Dari cerita mulut ke mulut dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya tentang manusia terbang. Menurut legenda masyarakat Seram, makhluk misterius yang tinggal di gunung di Pulau Seram bisa terbang layaknya burung atau dapat menjelma menjadi seekor musang.

Pernah di Kabupaten Seram Bagian Barat, Propinsi Maluku tepatnya di Desa Taniwel, Kecamatan Taniwel, ada salah satu warga Taniwel yang kehilangan anaknya hingga kini , masyarakat setempat pun mengaitkan kehilangan anak tersebut dengan suku Bati yang ada di pedalaman Kabupaten Seram Bagian Timur.
“Keangkeran” dan kisah mistik suku Bati pun menyebar di seantero Maluku dengan kasaktiannya.
Suku itu sering disebut mempunyai kekuatan supranatural yang sangat kuat, hingga mampu menyebrangi lautan ke tempat yang dituju hanya dengan hitungan menit.

Salah satu pensiunan Polisi yang pernah melaksanakan tugas di Kabupaten Seram Bagian Timur, mengisahkan keberadaan suku Bati yang terkenal sakti itu.
Dikisahkannya, suku Bati memiliki 7 Desa “Gaib” dimana tak ada seorangpun yang mengetahui letak desa itu. tak hanya penduduk setempat, desa Bati satu dan lainnya juga tidak saling mengetahui desa Bati lainnya.

Tinggalong
Dikisahkannya, malam itu suasana makin hangat, saat ingin mengambil udara sejuk di depan rumah dinasnya, dia didatangi sosok manusia supranatural (warga Bati) yang merubah wujud menjadi seekor musang atau dengan bahasa masyarakat setempat disebut Tinggalong.

Sang manusia supranatural itu lantas membawanya mengunjungi 7 desa (Gaib) suku Bati. Saat mengunjungi Desa Bati pertama, dia diperkenalkan dengan warga Desa Bati yang tak kasat mata. Setelah itu dia dibawa ke Desa Bati kedua dan seterusnya hingga desa Bati ketujuh. Namun yang membuatnya heran, warga Bati di Desa Bati pertama tak pernah mengetahui keberadaan desa Bati ketiga, demikian desa Bati kedua tak pernah mengetahui desa Bati keempat demikian seterusnya.

Manusia supranatural yang merubah wujud  menjadi Tinggalong itu juga hanya dapat membawa pensiunan Polisi yang sekarang mendiami kawasan Kayu Putih Ambon pada Desa Bati pertama. untuk ke desa Bati kedua, beliau dijemput oleh utusan Desa Bati kedua demikian seterusnya untuk desa Bati ketiga hingga ketujuh.
jadi warga desa  Bati ganjil tak pernah mengetahui keberadaan desa Bati ganjil lain juga desa Bati genap tak mengetahui desa Bati genap lainnya.

Kisah tentang suku Bati yang bermukim di Kabupaten Seram Bagian Timur yang konon dapat berubah wujud menjadi Tinggalong (Musang) dan Burung Kakak Tua itu, masih misterius.
Suku Bati yang berdasarkan cerita masyarakat pulau Seram,   dapat membawa terbang dan menghilangkan orang dengan pantangan tak menyebutkan nama “Tuhan atau Allah” itu membawa aroma mistik yang kian menakutkan.

Namun benarkah sosok suku “Supranatural” yang mendalami pedalaman Pulau Seram itu seperti yang diceritakan?  
Ditengah misteriusnya suku Bati, salah satu akademisi Maluku pun penasaran. Dia mendedikasikan dirinya untuk mencari kebenaran kisah mistik Suku Bati. Namun apa yang terlanjur beredar di kalangan masyarakat Maluku tentang kemistikan suku Bati tak lagi dapat ditepis.

Adapun Pieter Jacob Pelupessy yang menjalani penelitiannya di suku Bati selama 23 tahun membawa Pieter pada sebuah jawaban. Suku pedalaman di Pulau Seram itu tidak memiliki kekuatan gaib untuk ilang-ilang (menghilang) hingga terbang.

Perjalanan menempuh lautan dan perbukitan membuat Pieter Jacob Pelupessy mampu mengabadikan hidupnya selama 23 tahun (1985-2008) untuk mencari tahu kebenaran orang Bati.
Konon, orang Bati dianggap memiliki mistik oleh sebagian besar orang Maluku. Mereka dianggap sebagai orang ilang-ilang dan memiliki kemampuan gaib, terbang mengarungi lautan.

Penuturan yang melegenda itu sempat membuat para tua-tua adat yang mendiami desa-desa adat di Maluku segan untuk bertemu suku tersebut. Mereka enggan berbicara atau bertemu dengan orang Bati yang berada di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Tentu saja, lewat pendekatan kultural, Pieter mampu mematahkan anggapan negatif itu lewat studi komparatifnya.
Apa yang Pieter tuangkan dalam buku itu berisi sebagian besar pengalaman hidupnya sejak 1976. Diakuinya, cukup lama mencari tahu keberadaan orang ilang-ilang itu.

Lewat bukunya Esurium Orang Bati (Kekal Press, Bogor, 2013), Pieter yang bekerja sebagai dosen sarjana dan pascasarjana sosiologi Universitas Pattimura, Ambon, itu mencoba memberikan sebuah perspektif baru.

Buku setebal 427 halaman itu merupakan karya Pieter dengan editor Arie Herdiyanto dan desain cover Bambang Shakuntala. Pieter mencoba menghadirkan persoalan sosial dan kearifan lokal yang ada dalam tatanan kehidupan orang Bati.
Secara peradaban, dalam hal teknologi, memang orang Bati jauh tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain di sekitar pulau-pulau yang ada di Maluku, seperti Pulau Lease, Pulau Ambon, dan Pulau Buru.

Namun, ada yang menarik. Orang Bati masih menjaga tradisi-tradisi nenek moyang dan mitologi-mitologi sebagai jati diri. Orang Bati punya kebiasaan hidup bergandeng tangan dengan suku-suku lainnya yang mendiami Pulau Seram. Sayang, acap kali nama “Seram“ dianggap angker dan seram (menakutkan) oleh masyarakat luar.

Nama Bati sendiri mengandung makna mistis. Orang Bati diyakini memiliki kemampuan terbang melewati laut. Tak mengherankan, studi pustaka dan pengalaman mengunjungi daerah pedalaman itulah yang membuat Pieter menjadi peneliti yang cukup sabar, terutama dalam menghadirkan kisah-kisah dengan metodologi ilmiah lewat bukunya tersebut.

Esurium dalam nilai budaya orang Bati bukan saja mengindikasikan hak milik atas suatu wilayah, melainkan juga satu strategi hidup yang lahir dari pengalaman hidup para leluhur orang Bati terhadap lingkungan sosial ataupun alamnya.
Esurium terdiri dari dua kata, yaitu esu yang berarti hutan dan rium yang berarti ribuan atau beribu-ribu. Jadi, esurium ialah tanah adat yang diyakini memiliki jiwa dan sakral,  berfungsi sebagai ruang sosial, budaya, dan ekonomi.

Kesatuan hidup diikat konsep hidup roina kakal (orang bersaudara). Untuk itulah esurium harus dilindungi, dijaga, dan dipagari penduduknya. Tak ayal, anggapan itulah yang membuat orang luar tidak masuk ke sana karena dianggap pamali (pantangan).
Status esurium sebagai daerah pantangan itulah yang membuatnya terlindungi dari tangan-tangan orang luar. Alam yang asri masih ditemukan di wilayah yang masuk Kabupaten Seram Bagian Timur itu.

Mitologi Gunung Bati

Kapitan Esuriun Orang Bati
Sebagai daerah terpencil yang jauh dari perkotaan, masyarakat setempat masih memiliki anggapan tentang asal-muasal orang Bati. Mereka percaya manusia berasal dari Gunung Bati.
Untuk itulah mereka menganggap gunung itu sakral sehingga tidak boleh dirusak. Keturunan manusia awal (Alifuru) pun diyakini juga berasal dari Nusa Ina (Pulau Ibu) atau Pulau Seram yang senantiasa menyatu dengan kosmos tempat mereka berada.

Lewat pendekatan sosial kultural, esurium orang Bati merupakan akar budaya karena terdapat nilai, norma, dan adat istiadat yang semuanya terlembaga dalam daerah/desa adat.
Ada pandangan hidup untuk menjaga kelestarian hutan sehingga daerah yang dianggap  terlarang tidak boleh dimasuki. Itu sebagai bentuk untuk menjaga flora dan fauna secara tak langsung.
Budaya esurium di Tanah Bati senantiasa dilakukan melalui ritus-ritus adat yang berhubungan dengan tatanan hidup masyarakat yang mendiami kawasan hutan hujan tropis yang masih lebat dan perawan itu.

Mus Huliselan menilai masih banyak unsur kebudayaan orang Bati yang belum sempat diteliti dan digali. Buku Esurium Orang Bati sekadar pintu. Pengelolaan hutan, survival strategy (strategi hidup), dan kearifan lokal telah digambarkan. Akan menarik bila banyak ilmuwan menggali sisi tatanan orang pedalaman dengan pendekatan lainnya, nilainya. (MT)       




Posting KomentarBlogger

  1. Seperti orang BANTEN yg paling bebat temasuk KLENIKNYA. Tetapi yg PALING LAMA DIJAJAH Belanda. Apa sebab J.P.COEN, VAN MOOK, dsb TIDAK DISANTET?

    BalasHapus
  2. bagaiamana tanggapan pemerintah terhadap adanya suku ini ?

    BalasHapus
  3. Seharusnya di perkenalkan adat desa bati lewat observasi untuk diperkenalkan sampai ke luar negri

    BalasHapus

 
Top