0
Ambon,mollucastimes.com-Dalam rangka menjawab kebutuhan pembelajaran dalam kurikulum K13 bagi siswa SD, harus dilakukan analisa kerja untuk guru kelas sejenis di Gugus II Kecamatan Nusaniwe.

Demikian disampaikan Kepala SD Negeri Silale, Dra.Ny. F. Loppies, Jumat 08/02/19.

"Setiap SD memiliki guru kelas mulai dari kelas 1-kelas 6 yang ditambah dengan guru khusus untuk pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga (PJOK) serta Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Nah, para guru ini menganalisa  serta membahas kegiatan belajar mengajar mereka untuk satu minggu terkait dengan analisa kompetensi dasar apa yang harus dibahas dalampertemuan belajar mengajar di kelas. Selain itu juga pembuatan jadwal pelajaran yaitu menganalisa satu tema pelajaran yang terdiri dari beberapa sub tema. Satu tema terdiri dari 6 pembelajaran dan setiap pembelajaran itu dilaksanakan dalam satu hari sementara didalam satu hari itu ada sekian muatan pelajaran yang harus diselesaikan juga. Disinilah letak keahlian dan kepandaian guru tersebut menganalisanya," papar Loppies.

Dicontohkan, untuk kelas 1 ada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan PKN, namun berhubung dengan adanya tuntutan struktur kurikulum setiap kelas dengan jumlah jam belajar, maka kelas 1 itu harus ada 30 jam belajar per minggu.

"Muatan Bahasa Indonesia dan PKN harus ditambah lagi dengan sekian muatan pelajaran sehingga nantinya mencukupi 30 jam belajar setiap minggu. Karena itu harus ditambah dengan PJOK dan Pendidikan Agama dan Budi Pekerti sehingga dalam satu minggu guru POJK dan Pendidikan Agama dan Budi Pekerti harus mengajar selama 4 jam. Setelah dianalisa pembelajaran satu ada dua muatan yaitu PKN dan Bahasa Indonesia bahkan mungkin juga Pendidikan Agama dapat dimasukkan ke pembelajaran pertama. Untuk pembelajaran kedua, dengan hasil analisa bisa juga ditambah PJOK 2 jam belajar sehingga nantinya menjawab 1 minggu ada 4 jam belajar untuk PJOK dan Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, " jelasnya panjang lebar.

Diakui Wanita berkacamata ini, selain menganalisa jam belajar dalam sistem K13 ini, kegiatan ini juga untuk menyiapkan guru  kelas dalam supervisi.

"Guru kelas harus siap bila nanti suatu waktu dilakukan supervisi dimana seluruh adminstrasi guru dan sekolah harus benar-benar dilengkapi. Ini merupakan tuntutan untuk sekolah yang berkompetensi. Dengan demikian walaupun posisi sekolah dalam gugus II ini jauh dari pusat kota namun seyogyanya memiliki kompetensi yang sama dengan sekolah lain," tegasnya.

Ditambahkan untuk buku pelajaran diberikan 20% potongan anggaran dari pemerintah.

"Sesuai dengan aturan yang berlaku setiap sekolah mendapatkan 20% angggaran dari total dana  dari pemerintah yang diperuntukkan bagi penyediaan buku siswa. Buku tersebut diperbolehkan untuk dibawa pulang ke rumah supaya siswa dapat belajar. Sebab dari anggaran tersebut dapat dihitung sesuai jumlah siswa sehingga 1 siswa mendapat 1 buku pelajaran. Anggaran untuk buku ini harus dimaksimalkan oleh sekolah sehingga diharapkan seluruh siswa mendapat buku pelajaran dalam proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah," harapnya.

Sementara itu, sekolah yang termasuk dalam Gugus II diantaranya SD Negeri Silale (sebagai sekolah inti)  dan 9 sekolah imbas yaitu SD N I Latuhalat, SD N II Latuhalat,  SD Airlow,  SD Inpres 33, SD Inpres 48, SD Inpres 49, SD Kristen 1 Waimahu, SD Kristen 2 Waimahu, dan SD Kristen Seri.
(MT-01)

Posting KomentarBlogger

 
Top