Asal Mula Patasiwa dan Patalima (Legenda dari Maluku)


Mollucastimes.Com- Kita pasti tahu apa itu Patasiwa dan Patalima? Patasiwa dan Patalima adalah dua kata yang disatukan menjadi Siwalima yang merupakan semboyan rakyat Maluku. Namun pernahkah pembaca tahu  asal mula Patasiwa dan Patalima? 

Yang belum tahu, mari kita simak kisahnya. 

Asal Mula Patasiwa dan Patalima
Cerita rakyat asal mula kelompok Patasiwa dan kelompok Patalima berasal dari pulau Seram Provinsi Maluku. Berawal dari kisah dibunuhnya putri Hainuwele maka terjadi perpecahan antara kelompok-kelompok di pulau Seram. 

Berikut adalah kisahnya.
Hainuwele adalah seorang putri yang sangat cantik menawan yang dalam bahasa daerah disebut Mulua. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang selain kecantikannya ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia lain pada umumnya. 

Ia dapat menyihir sesuai kehendak hatinya. Dari seonggok lumpur Hainuwele dapat menyihirnya menjadi barang-barang berharga seperti piring-piring dari Cina yang disebut porselen dan gong. Barang-barang tersebut kemudian dijual dengan harga yang lumayan mahal. Berita tentang Hainuwele pun tersiar luas di seluruh pulau Seram. 

Kelebihan yang dimilikinya membuat banyak orang senang dan kagum padanya namun tak sedikit juga yang iri hati padanya. Pada suatu hari diadakanlah pesta Tari Maro di Tamene Siwa. Pesta itu diselenggarakan oleh sembilan keluarga, dan merekalah yang menjadi penari dalam acara tersebut selama sembilan hari. 

Para penari membentuk sembilan lingkaran besar dimana perempuan-perempuan duduk ditengah-tengah lingkaran sambil menyuguhkan sirih dan pinang kepada setiap penari pria. Pesta berlangsung pada malam hari hingga pagi hari, dan berlangsung selama sembilan hari. Namun tempat pelaksanaan tarian antara hari pertama dan hari-hari lainnya berbeda. 

Putri Hainuwele juga diundang dalam pesta Maro itu. Ketika ia tiba di tempat pesta, ia menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir saat itu karena kecantikannya. Ia pun menari bersama penduduk yang ada dan ketika ia hendak membagi-bagi sirih dan pinang seperti biasanya yang dilakukan oleh para penari perempuan, namun anehnya ia membagi-bagikan batu-batu karang yang berubah menjadi benda-benda yang bercahaya dan berkilau. 

Melihat hal itu, orang-orang yang hadir kemudian serentak berebutan benda-benda tersebut darinya Pada malam berikutnya, Hainuwele kembali lagi untuk mementaskan tari Maro bersama penduduk lainnya. Kali ini ia membagi-bagi piring porselen yang disebut Hana. Malam keempat ia kembali lagi dan membagi-bagikan piring-piring Cina yang besar yang disebut Kina Batu. Malam kelima ia membagikan parang-parang panjang. Malam keenam ia membagikan kotak tempat sirih dan tembaga yang indah. Malam ketujuh masing-masing orang mendapat anting-anting emas, malam kedelapan ia membagikan gong yang indah. Apa yang dilakukan Hainuwele membuat orang-orang yang hadir saat itu sangat senang namun ada juga yang iri dan cemburu padanya. Mereka yang cemburu itu berencana untuk membunuhnya pada malam kesembilan (malam terakhir). Tibalah pada malam kesembilan pesta tari Maro dilangsungkan dengan sangat meriah dan orang yang ikut pun bertambah banyak. Seperti biasa yang dilakukan Hainuwele kembali berdiri di tengah-tengah para penari untuk membagi-bagi sirih pinang sementara itu mereka yang berencana membunuhnya telah menggali lubang yang dalam. Kelompok penari malam itu adalah dari keluarga Lesiela. 

Di tengah-tengah keasyikan menari sambil membagi- bagikan hadiah tiba-tiba Hainuwele didorong masuk ke dalam lubang tersebut. Serentak dengan itu pula para penari langsung menyanyikan lagu Maro dengan suara yang keras dan bernada tinggi untuk menutupi suara jeritan minta tolong Hainuwele dari dalam lubang yang gelap itu. Sambil terus menyanyi dan menari para penari menutupi lubang itu dengan tanah sambil menginjak-injak tanahnya supaya keras dan padat. Ketika hari telah subuh pesta pun usai para penari juga kembali pulang kerumah masing-masing. Sementara sang putri tidak pernah kembali lagi kerumahnya. Ayahnya Ameta dengan kesaktiannya yang tinggi langsung mengetahui bahwa anaknya telah dibunuh di tempat pesta tari Maro semalam.

Ameta langsung mengambil 9 (Sembilan) batang lidi (tulang daun kelapa) dan menuju tempat pembunuhan anaknya itu. Setelah tiba disana ia menancapkan lidi-lidi tersebut di atas tanah dimana anaknya dikubur. Selanjutnya ia melakukan Mawe (meramal). Dan ia langsung mengetahui bahwa ada 9 (Sembilan) lingkaran penari Maro berada di tempat itu. Ketika Sembilan lidi itu dicabut dari atas tanah keluarlah darah diikuti dengan beberapa helai rambut Hainuwele. Dengan segera Ameta menggali lubang itu dan menemukan jenazah anaknya, kemudian menguburkannya. Ameta menjadi sangat marah dan berusaha untuk membinasakan 9 (Sembilan) kelompok penari tersebut. Gemparlah Tamene Siwa karena peristiwa itu, dan sejak itu situasi keamanan di Tamene Siwa dan sekitarnya menjadi tidak aman akibat seringkali terjadinya pembunuhan antara kelompok yang membunuh Hainuwele dengan kelompok yang menyayanginya. (**) 

Sumber :  Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon

Posting Komentar

Beta rasa masih kurang sejarah yang disampaikan saudara....
Saudara tidak lebih terperinci, mulai dari awal lahirnya putri, sampai dia dibunuh juga masih kurang terperinci......
Maaf sebelumnya, beta cuma mengoreksi yg masih kurang dalam tulisan saudara....
Lebih jelas kalau anda ingin mengetahui sejarah seram yg sebenarnya coba anda berkunjung didaerah masihulan seram utara dekat saleman, disitu anda bisa ketemu sama beta pung bp tua Ulis Makatita, pasti sudara akan diberitahu semua sejarah dari Tamena siwa yg artinya 9 suku....
Trimakasih......

Beta rasa masih kurang sejarah yang disampaikan saudara....
Saudara tidak lebih terperinci, mulai dari awal lahirnya putri, sampai dia dibunuh juga masih kurang terperinci......
Maaf sebelumnya, beta cuma mengoreksi yg masih kurang dalam tulisan saudara....
Lebih jelas kalau anda ingin mengetahui sejarah seram yg sebenarnya coba anda berkunjung didaerah masihulan seram utara dekat saleman, disitu anda bisa ketemu sama beta pung bp tua Ulis Makatita, pasti sudara akan diberitahu semua sejarah dari Tamena siwa yg artinya 9 suku....
Trimakasih......

kurang membuktikan bahwa asal mula patasiwa patalima daricerita di atas,(kurang jelas ceritanya).

Kurang jelas... Dinegeri Beta negeri Lumahlatal wemale ulipatai seram barat (patasiwa metene) punya cerita tdk seperti it...

Judul Deng isi Carita kurang pas....panggal panggal

Judul dn isi cerita zg pas ...tepatnya cerita ngawur sprt ini kok dimuat ...hadeehh

[facebook][blogger]

Ok

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget