0

Ambon,Mollucastimes.Com- Pencanangan Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marginal (GP3M) dengan moto melalui GP3M kita tingkatkan kecakapan hidup perempuan marginal menjadi terampil dan mandiri dan Gerakan Indonesia membaca (GIM) dengan moto membangun budaya baca masyarakat dicanangkan oleh Kepala Pusat Pengembangan Strategi dan informasi diplomasi kebahasaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Emi Emili, Psg, Sabtu (14/5) di lapangan Merdeka Ambon, Maluku, diikuti 1300 orang.

Prof. Emi Emily, Psg yang membacakan sambutan Menteri Pendidikan dan kebudayaan, mengatakan para pegiat literasi dan pegiat perempuan telah membuka jalan dan asa bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam pendidikan. GIM dan GP3M merupakan kesadaran bersama dalam mempersiapkan generasi terdidik yang melek literasi dan sadar peran mulia perempuan. 

“Pencanangan hari ini memantik gelora literasi dan gelora pemberdayaan perempuan diseluruh negeri. Kita berharap gelora literasi dan pemberdayaan perempuan dititik-titik tersebut memebesar, menyebar, menerangi penjuru negeri. Pencanangan ini juga adalah bagian memelihara spirit perjuangan yang dikobarkan Pahlawan Nasional, Christina Martha Tiahahu. Sosok perempuan pejuang yang spiritnya harus dikobarkan di hati semua perempaun Kota Ambon,” ungkapnya. 

Dijelaskan, jika tujuh puluh tahun lalu saat teks proklamasi dibacakan, 5 persen penduduk Indonesia melek aksara, tahun 2015 keadaan berbalik. Penduduk Indonesia yang melek aksara mencapai 96,3 persen. 

“Ini artinya hanya tersisa sebanyak 5,9 juta penduduk Indonesia yang belum mengeja dan menulis namanya sendiri. Jumlahnya sedikit tapi ternyata belum seluruh penduduk negeri ini terbebas dari belenggu ketidakberdayaan. Kita tidak boleh diam. Kita harus membanru mereka,” pintanya. 

Dirinya mengapresiasi capaian Provinsi Maluku yang sesuai catatan Kemdikbud tahun 2015 angka melek aksara di rpovinsi ini mencapai 99 persen yang mengisyaratkan hampir semua penduduk di Maluku sudah bisa baca tulis. 

“Nyalakan pelita, terangkan cita-cita. Sebuah tekad untuk memastikan pendidikan kita menjadi pelita bagi setiap anak Indonesia agar dapat melihat peluan, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya. Keasadaran kita melalui GIM dan GP3B akan terwujud apabila kita semua bekerja keras dan membuka lebar-lebar partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam gerkan ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Budaya Baca, Alipi mengatakan Maluku masih dibawa rata-rata nasional 97 persen dengan literasi yang sangat rendah. Sesuai dengan penelitian terhadap 61 negara, Indonesia peringkat dua terbawah sebelum Bosnawa. 

“Melalui aksara, setiap orang mampu mendeskripsikan diri, karena membaca sangat penting sehingga GIM tidak hanya seremonial semata namun pemkot harus membuat rencana aksi peningkatan budaya baca masyarakat pada 2016-2019. Harus ada kampung literasi,” katanya. 

Senada dengan itu, Sekretaris Kota Ambon, A.G Latuheru megatakan GIM merupakan kegiatan sosialisasi masyarakat dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agar masyarakat secara serempak saling membantu menyediakan sarana dan prasarana serta media bacaan sehingga mampu mendorong tumbuhnya kegemaran membaca bagi setiap orang mulai dari lingkungan keluarga, masyarkat maupun satuan pendidikan. 

“Membaca merupakan salah satu cara memperolehilmu pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai bidang. Melalui membaca setiap orang mampu mempertajam wawasan, mengembangkan kemampuan berpikir kriitis, kreatif dan produktif sehingga membaca harus dilakukan sejak dini karena merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap orang,” jelasnya. 

Menurutnya, GIM dan GP3M tidak dapat dipisahkan karena sesuai hasil penelitian, 60 persen warga belajar pendidikann keaksaraan di Indonesia adalah perempuan. Sangat penting pendidikan berkelanjutan bagi perempuan karena ekosistem pendidikan berkelanjutan akan berimbas pada pendidikan serta kualitas hidup generasi berikutnya. 

Pemkot juga akan membangun kampung literasi sehingga menggugah minat baca masyarakat. 

“Banyak baca banyak tahu. Jika banyak tahu, pemkot akan tertolong karena akan ada pikiran-pikiran maupun kritikan yang membangun kota ini,” ulasnya. 

Sementara itu, Kepala Seksi Budaya Baca, Alipi mengatakan Maluku masih dibawa rata-rata nasional 97 persen dengan literasi yang sangat rendah. Sesuai dengan penelitian terhadap 61 negara, Indonesia peringkat dua terbawah sebelum Bosnawa. 

“Melalui aksara, setiap orang mampu mendeskripsikan diri, karena membaca sangat penting sehingga GIM tidak hanya seremonial semata namun pemkot harus membuat rencana aksi peningkatan budaya baca masyarakat pada 2016-2019. Harus ada kampung literasi sehingga masyarakat pro aktif dalam menumbuhkembangkan minat baca generasi muda,” (MT-03)

Posting KomentarBlogger

 
Top