1

Mollucastimes.Com- Negeri Amahusu, adalah Desa di Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, propinsi Maluku, yang merupakan Desa yang dekat dengan pusat kota Ambon. Waktu tempuh dari pusat kota Ambon ke Negeri Amahusu hanya dapat ditempuh dengan 15-20 menit perjalanan. 

Hampir seluruh warga Desa Amahusu berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) TNI/POLRI. Negeri Amahusu sebagai salah satu desa berkembang, yang mungkin hampir sejajar dengan Kota Ambon. 

Amahusu sebagai salah satu negeri (Desa) yang tiap tahunnya selalu dipercayakan sebagai tuan rumah Yacht Race Darwin-Ambon, membawa Negeri Amahusu tak menutup diri dari pengaruh luar yang tentunya dapat membawa dampak positif. 

Namun diantara keindahan, kemegahan dan kemasyuran negeri Amahusu, tidaklah lengkap jika kita tak mengetahui asal usul negeri Amahusu. 
  
Mau tahu bagaimana legendanya ? mari kita simak, 

Dahulu kala di Pulau Banda hiduplah seorang raja yang bernama Lawataka (Lautaka) dan isterinya Mulika Nyaira Banda Toka. Pernikahan kedua sejoli itu, dikaruniai 7 orang anak, satu diantaranya berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Putri Boiratan. 

Mereka juga memelihara anak lelaki Raja Sahulau . Namun, ketika Raja Sahulau itu meninggal dunia maka putranya itu kembali ke Seram dan menggantikan ayahnya. 

Sepulangnya anak Raja Sahulau, Puteri Boiratan pun mengandung. Keenam saudara laki-lakinya mejadi marah dan saling menuding bahwa ada di antara mereka yang berbuat zinah dengan adik perempuan mereka itu. Sebab tidak ada orang lain yang hidup bersama mereka. Karena tidak ada yang mengaku,  maka mereka bersabar menunggu kelahiran bayi itu. Saat bayi sudah berumur satu tahun, mereka mulai menguji siapa ayah biologis Sang Bayi.

Mereka lantas menggelar ritual turun temurun. Mereka  membuat sebuah lingkaran dan berdiri mengeilingi bayi itu. Mereka mengelilingi bayi sambil masing-masing memegang sebuah parang (senjata tradisonal masyarakat Maluku). Bilamana si bayi merayap menghampiri seorang dari mereka  dan memegangnya, maka si bayi itu harus dipenggal. 

Namun ritual yang dilakukan untuk mengetahui ayah biologis si bayi harus kandas, karena bayi itu hanya berputar-putar di dalam lingkaran dan tidak merangkak mendekati seorang di antara mereka. Hal itu menandakan ayah biologis sang bayi bukan salah satu dari keenam saudara itu. 

Ketika sang bayi beranjak dewasa, Putri Boiratan bersama anaknya itu meninggalkan saudara-sudaranya dan berangkat ke Sahulau untuk menemui Raja Sahulau yang adalah ayah si  Bayi. Putri Boiratan bermaksud menikah dengan Raja Sahulau, tetapi Raja menolak menjadikan Putri Boiratan sebagai isterinya . 
Alasan strata social yang menjadi penyebab penolakan Raja Sahulau. Baginya, kekuasaannya lebih besar dari raja Lawataka di Banda, sehingga tidak pantas  menikah dengan Putri Boiratan. 

Mendapat penolakan dari ayah Sang Bayi, Putri Boiratan dengan anaknya kembali berlayar, akhirnya mereka tiba pada suatu tempat dekat negeri Latuhalat. Mereka hanya bermalam di daerah itu,dan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pantai  Tanjung Nusaniwe. 

Merasa letih, dan kehabisan persediaan makanan, Putri Boiratan dan anaknya singgah pada satu tempat yang bernama batu pasang-pasang . mereka menelusuri semak batu pasang pasang,dan membuka semak dan hutan belukar dengan galah (Kayu) yang terbuat dari bambu. Mereka bermaksud menuju gunung yang aman dari serangan binatang buas.

Selang beberapa lama berjalan, mereka berdua tiba di sebuah bukit atau gunung kecil antara Gunung Nona dan Gunung Tola . 
Di tempat ini Putri Boiratan menancapkan galah (Bambu) yang di bawanya. galah yang ditancapkan Putri Boiratan itu tumbuh, hingga saat ini galah Putri Boiratan oleh masyarakat setempat  disebut sebagai Bambu Suanggi. 
Entah kenapa kata suanggi disematkan pada galah Putri Boiratan itu. namun menurut kepercayaan masyarakat setempat, galah Putri Boiratan itu dapat dipakai sebagai penolak bala, atau senjata untuk melawan dukun jahat (Suanggi). Tempat dimana ditancapkan galah Putri Boiratan itulah hingga saat ini disebut sebagai  Arimahusi .

Bertahun tahun mereka menetap di Arimahusi, hingga saat itu datang. Arimahusi diusik oleh gerombolan pasukan kerajaan lain yang bermaksud untuk merebut wilayah Arimahusi. 
Arimahusi tidak terlalu aman untuk di tinggali, perebutan wilayah menjadi penyebab tak amannya wilayah Arimahusi. 

Putri Boiratan dan beberapa warga desa yang menetap bersamanya di Arimahusi lalu meminta bantuan dari Arusi, suatu perkampungan di Nusaniwe. Dikirimlah Kapitan Sounusa yakni Mainake yang mana Kapita Mainake mempunyai dua anjing peliharaan masing masing beranama, Hatupau dan Tomariki. Kapitan Mainake di bantu oleh Kapitan Samajotu (Soplanit). 

Keahlian berperang ditambah kesaktian yang tinggi oleh kedua Kapitan, membuat musuh dapat dipojokan sampai ke Karang Tagepe. Disana kedua kapitan ini berhenti di tempat yang di beri nama Ura (Ura-hura : Menang). 

Anak Putri Boiratan juga ikut dalam pertempuran itu. Sekembalinya mereka usai menghalau musuh, mereka merasa kelelahan dan kehausan. Saat sampai di sebuah bukit karang, Anak Putri Boiratan menikam tombak bambu suanggi yang selalu di bawanya, dan ajaib, tempat ditancapkannya Bambu mengeluarkan air dari celah-celah batu karang. Tempat itu kemudian di kenal dengan nama Air Setan dan masyarakat setempat menamai wilayah itu sebagai ‘’Wainitu’’. 

Waktu berganti waktu, tahun berganti tahun, anak Putri Boiratan jatuh cinta dengan anak Kapitan Leinussa. Tak butuh waktu lama dalam penjajakan asmara mereka. Anak parempuan Kapitan Leinussa pun dipinang Putri Boiratan untuk anaknya.

Ingin mencari wilayah baru untuk mereka dan keturunannya, anak Putri Boiratan kemudian meminta restu Kapitan Leinussa dan Putri Boiratan untuk turun ke pantai. Mereka direstui untuk mencari wilayah baru.  
Turunlah mereka ke pesisir pantai, dan berdiam ditempat dimana Putri Boiratan menambatkan Gusepanya dulu. Oleh keturunan mereka, mereka digelar Latuwakang yang artinya Raja yang datang dengan Pewakang (gusepa). Konon tempat dimana mereka tinggal sampai saat ini dikenal dengan nama Amahusu.

Demikianlah Legenda asal mula Negeri Amahusu.. Apakah ada legenda Desa Amahusu yang lain versi Pembaca? Melestarikan budaya Maluku termasuk bertutur Legenda pada generasi Maluku, baik adanya. (MT)  

Posting KomentarBlogger

 
Top