0

Mollucastimes.Com- Pembaca Mollucastimes.Com, setelah beberapa postingan redaksi Mollucastimes menyajikan Legenda dari Pulau Seram, kali ini kami akan menyajikan Legenda terbentuknya desa di Pulau Ambon. Kali ini kami akan mengupas tentang Legenda asal mula Negeri Nusaniwe. 

Ingin tahu?  ini ceritanya,  Sejarah penduduk mula-mula di pulau Ambon dan Lease, tidak  terlepas pisahkan dari penduduk asli pulau Seram, Halmahera dan Jawa (Tuban). Masyarakat/ kelompok-kelompok kecil yang datang itu biasanya mendiami daerah-daerah pegunungan sebagai tempat pemukiman pertama yang disebut “Negeri Lama”.  ketika terjadi peperangan dan pertambahan penduduk maka terjadi pula perpindahan dari daerah pegunungan ke bagian pesisir (pantai) yang disebut  “kampong/negeri baru”.

Menyoal asal mula Dusun Airlouw, berarti menggali  Nusaniwe secara utuh.  Airlow (dulu Hatiary) adalah Nusaniwe atau Rossaniwe yang artinya, Pulau kelapa (Nusa=pulau, dan Niwel=kelapa). Menurut cerita, orang pertama yang masuk dan mendiami negeri  atau Dusun Nusaniwe berasal dari Seram Utara tepatnya kampung Tobu pada abad  13 M. 

Dua bersaudara yaitu Surihai dan Lasang Pius Wattilete bertolak dari tempat asal dan menyisir pantai Hutumuri ke arah barat, tibalah mereka di suatu Labuan atau pantai yang di sebut juga “Labuan sipadore”.  artinya sampai sudah sore  (Labuan Sipadore disebut juga Labuan Raja yang  artinya pantai tempat mandi raja dan keluarga).

Tempat yang pertama Surinai dan Lasang Pius Wattilete singgahi adalah Lahuung yang berlokasi di sebuah gunung yang diberi nama gunung Tola (artinya tempat bertolak).  Dari Lahuung mereka bertolak ke “Tariu” (artinya tempat yang tenang,teduh,sunyi/tidak ada suara), daerah sekarang merupakan tempat rumah tua Kapitan Wattilete dan sebagai tempat upacara panas Adat/ panas Pela Kapitan dan Malessy. 
Terjadilah pertambahan penduduk di  daerah itu maka mulailah terbentuk suatu kelompok masyarakat kecil yang bertempat di “Amanila” (tinggal Bapa) yang berdekatan dengan “Rumila” (rumah Ilah). 

Amanila dihubungkan dengan tempat tinggal Surinai dan Lasang Pius Wattilete, disitu terdapat “Rumila” yang merupakan baileo (sebutan sekarang) adalah tempat berkumpul Upulatu/Raja dan warganya serta berbagai tempat upacara kepada Ilah-ilah (arimistik).  Amanila da Rumila mereka membangun sebuah kota kecil dan disitu terbentuklah kerajaan Nusaniwe yang pertama. 
Tempat dimana kota kecil/Kerajaan Nusaniwe didirikan adalah “Amatiang (artinya tiang Bapa)” atau Ukuhener (Uku=suara/bunyi, dan Hener=Air mengalir) jadi Ukuhena adalah bunyi/suara air yang mengalir. 

Ukuhena menunjuk kepada kekayaan alam kerajaan Nusaniwe berupa sumber air yang melimpah, pohon sagu dan pohon durian pada zaman itu. Buktinya sampai sekarang ini kita masih bisa melihat banyak sungai atau kali mati yang tersebar di seluruh negeri, pohon sagu dan durian semakin jarang tetapi masih banyak tersebar luas di pegunungan.

Pamareuta (Raja) dengan Gelar Latu-latu Laiar yang disertai dengan pengawal/pelindung Raja adalah Surinai (Kakak) yang bergelar Latu-latu kapitan. Pada Zaman itu belum ada istilah Raja, dizaman kerajaan Nusaniwe yang dikenal adalah Pamareuta (Latu/Raja) yang disebut sebagai kepala Adat/pimpinan. 

Pemerintah Negeri/negeri saniri yang meliputi Soa-soa dengan Mata Rumahnya dan Saniri besar yang meliputi seluruh komponen masyarakat termasuk tukang,kewang, marinyo, aueng dan masyarakat. Luas wilayah kerajaan meliputi Labuan Honipopu (dibelakang kota) sebagai benteng Victoria dan berbatasan dengan petuanan Negeri Soya. 

Di Era kolonial pada Zaman Portugis dan Belanda menjajah Maluku dan Ambon khususnya (pada Abad 15-16) pada tahun 1959 kerajaan ini masih tetap berdiri di bawah Pamareuta Lasahalila/ Lasahanila Wattilete dengan 10.000 prajurit pemerintah kerajaan kemudian di alihkan ke daerah Urimessing dan disitulah dibangun “Baileo” yang kedua setelah “Rumila” (sekarang tempat baileo Nusaniwe di belakang kantor PLN Ambon daerah sekita pohon pule). 

Di Nusaniwe pada abad tersebut sudah ada Ulihima/ lima kelompak masyarakat atau Dusun kecil yang dipimpin oleh Aman/Hena  (orang kaya) dan Pati (di desa Amahusu) yang semuanya berada di bawah pimpinan Upu Latu/ Raja Nusaniwe yang disebut Pamarentah , kelima Dusun/ulilima itu masing masing, Papala  (kampung yang dipimpin oleh Risakotta pada bagian Latuhalat),Ukuhuri  (kampung yang dipimpin oleh Raja di sebelah barat/Latuhalat), Ukuhener  ( Daerah dari pos polisi Latuhalat sampai Pintu Kota), Hatiari ( Airlouw),Seilale : Di antara/ di atas bukit (mengapit Latuhalat, Erie dan Airlouw).

Akibat “strategi adu domba” Belanda (1069-1610) yang ingin menguasai Nusaniwe, maka terjadilah “kudeta” didalam kerajaan, mengakibatkan terjadi pula peralihan kekuasaan dari Lasahanila Wattilete ke Lopulalan. 
Penguasaan kerajaan yang baru Lopulalan/Latusopulalan yang disebut juga Antony de sosya dibawah pimpinan Andre Fotando, mengirim “raja” tersebut ke benteng Laha yang kemudian di baptis di sana. 
Dengan demikian Nusaniwe merupakan negeri/desa pertama yang menerima Kristen di pulau Ambon sekitar abad 16 M. 

Di zaman Belanda itulah terjadi beberapa perubahan  pada kerajaan Nusaniwe antara lain,  system pemerintahan dari Pamareuta/Upulatu diganti dengan gelar Raja.  Masyarakat Aman/Hena (orang kaya) dikerajaan Nusaniwe, diubah dengan masyarakat negeri, tahun 1639 oleh kerajaan belanda, negeri Nusaniwe di beri gelar “Koningen van Nusaniwe”/ disebut negeri Raja Nusaniwe selain negeri Soya dan negeri Kilang pada Zaman itu. 

Sejalan dengan keinginan Belanda untuk menjajah dan menguasai serta pertambahan penduduk yang cukup pesat, mengakibatkan luas wilayah petuanan negeri Nusaniwe menjadi sempit. Di era tahun 1945, negeri Nusaniwe hanyalah dusun Airlouw dan Erie. Dulu dusun Erie adalah tempat berkebun, pusat dati-dati dari masyarakat yang tinggal di Amatiang sekitar tariu. Lama-kelamaan karena pertambahan penduduk yang semakin banyak maka terbentuklah dusun Erie setelah dusun Airlouw.

Adapun terbentuknya Dusun Airlouw adalah dipesisir pantai (Kampung Baru)  sukar ditemukan air  tawar, yang ada hanyalah satu kolam air, yang jika diambil sangatlah sulit karena letaknya yang tersembunyi dan tertutup oleh akar-akar pohon, oleh bahasa setempat kolam itu disebut “Airlouw”.  Airlouw terdiri dari dua kata yaitu Air: artinya Air, dan Louw : satu cara mengambil benda (AIR) dengan posisi badan membungkuk dan tangan terlunjur ke depan. 

Berawal dari cerita tersebut daerah di sekitar itu dinamakan Airlouw hingga kini dan merupakan pusat kerajaan Nusaniwe yang kedua di pesisir (pusat kerajaan di pegunungan dipindahkan ke pesisir pantai).  Dusun Erie yang sekarang sebagai pusat pemerintahan negeri Nusaniwe karena pertimbangan bahwa daerah tersebut dekat denga pusat kota sangat strategis karena menghadap pintu masuk kota Ambon yaitu Tanjung Nusaniwe dan Tanjung Alang. Demikianlah Legenda Nusaniwe, Kota Ambon , Propinsi Maluku. Adakah Legenda asal mula negeri Nusaniwe versi pembaca? (MT)

Diolah dari berbagai sumber 

Posting KomentarBlogger

 
Top