4
Tari Cakalele (Foto : Papalele Galery)

Mollucastimes.Com-  Pembaca Mollucastimes yang setia, sebelumnya Redaksi telah menyajikan legenda asal usul desa Amahusu, Nusaniwe, dan Latuhalat, kali ini Redaksi  akan menceritakan tentang legenda asal usul Desa Passo, Kecamatan Baguala Kota Ambon. Ingin tahu bagaimana kisahnya ? mari kita simak sama sama,

Negeri Passo atau sering disebut negeri Baguala adalah salah satu dari negeri negeri kristen tertua dan terkenal. Baguala terletak pada tanah sempit di teluk Ambon bagian dalam di tepi sungai Wae Ela. 

Pada tahun 1926 di bagian selatan Passo terdapat sebuah benteng batu yang dikelilingi parit dan disebut benteng Middelburg. Disini pulau Ambon terbagi dua oleh sebuah selat (mungkin teluk). Selat yang sempit itu tidak sukar diseberangi.  Di Passo ada seorang saudagar bernama Simau Baguala yang kemudian dikenal dengan nama Dominggus Baguala. 

Passo memiliki kora kora sendiri setlah berpisah dari Suli. Baguala menduduki kedudukan kesebelas dalam landraad. Negeri ini tidak terlalu terkenal dengan penghasilan rempah rempah (cengkih dan Pala, namun lain halnya dengan hutan Sagu. Sagu di Passo sangat lebat. Di bagian timur Passo terdapat sebuah tanjung yang berbatu, dan sangat berombak saat datangnya musim timur. 

Nenek Moyang Passo konon berasal dari pulau Seram. Orang Seram yang bermigrasi tiba di Baguala kemudian menuju pegunungan dan mendiami gunung Ariwakang yang berbatasan dengan negeri Hitu. Saat itu ada peperangan besar antara orang Hitu dengan orang Portugis . Orang Seram yang menghuni pegunungan Ariwakang itu tak menetap lama. Mereka kemudian mencari tempat pemukiman baru yang dirasa aman. Setelah mencari mereka menemukan sebuah pantai yang namanya Ohouw ( konon merupakan Negeri lama mata rumah, Simauw, Titariu, Tuatanassy, dan Parera) untuk ditinggali. 

Tak hanya di Ohouw, konon ada beberapa mata rumah juga mendiami salah satu tempat bernama Amamomi yakni mata rumah Sarimanella, Risampessy, Latupela, Tomalueng, dan Tuhilatu. Para penduduk di negeri lama diatas kemudian oleh Pemerintah Belanda (VOC) diturunkan dan dimukimkan ditempat yang dikenal atau disebut Passo. 

Mengenai asal nama “Passo” , berhubungan dengan pembuatan benteng benteng (Blokhuis) Middelburg. Dibawah pimpinan saudagar Simau, pemerintah Belanda mengharuskan penduduk untuk memperbaiki dan memperluas benteng tersebut (sebelumnya benteng portugis). Namun orang orang Passo kurang serius dalam membangun benteng. Dan para penjajah Belanda sering menghardik mereka dengan ucapan “Pasop Ya” (Artinya : Hati Hati / Awas). Kata “Pasop” itu berkembang hingga kini menjadi Passo. 


Soa perintah di Passo konon dari mata rumah Simauw. Kata Simauw pun konon berasal dari penunjukan Belanda pada seorang warga Passo saat itu. kata petinggi Belanda saat itu kepada sang pemuda yang turun dari negeri lama, “ se mau jadi Raja?” dan pemuda itu mengiyakannya. Dari saat itu “Se Mau” kemudian oleh masyarakat setempat berubah menjadi Simauw. 

Desa Passo sendiri memiliki hubungan kekerabatan cultural (Pela) dengan Desa Batu Merah. Hubungan Pela itu bermula saat kedua Desa saling membantu saat musibah yang menimpa mereka dilaut. Dalam pelayaran pulang dari Ternate ketika tiba di dekat pantai Pulau Buru, kora-kora dari Negeri Passo tiba-tiba mendapat kecelakan karena kandas dan hampir tenggelam. Untunglah mereka ditolong oleh anak buah kora-kora dari Negeri Batu Merah yang dengan berusaha keras membantu memperbaiki kerusakan kora-kora Passo dan akhirnya mereka dapat mendarat di sebuah tanjung yang kemudian di berinama “Tanjung Pela”. Ditempat inilah kedua belah pihak sama-sama mengangkat sumpah untuk hidup rukun dan saling membantu seperti saudara gandong. Upacara adat pela ini disimbolkan dengan dua bilah panggayo (dayung) yang diletakkan bersilang dan ditindih dengan sebuah batu . 
Generasi dari kedua Desa itu yakni Passo dan Batu Merah pun dilarang untuk saling mengawini atau berniat jahat serta mencelakai saudaranya (Passo atau Batu Merah). 

Namun ada asal usul negeri Passo versi lainnya dimana  Nenek moyang penduduk asli Negeri Passo berasal dari Pulau Seram atau Nusa Ina tepatnya di daerah Hoamual. Saat itu terjadi perang besar-besaran antara  kelompok Patasiwa dan Patalima hingga penduduk yang mendiami daerah Hoamual merasa tidak aman. Akhirnya mereka melakukan perpindahan atau exodus dengan mengarungi lautan mencari daerah yang aman untuk dihuni.


Konon menurut orang Portugis istilah Passo berarti berada di tengah-tengah. Karena Negeri Passo terletak diantara dua jasirah yakni Jasirah Leihitu dan Jasirah Leitimur. Sedangkan menurut orang Belanda nama Passo berasal dari 2 kata yakni Pas dan So. Pas artinya surat jalan dan So artinya ya. Karena Passo letaknya strategis di persimpangan jalan maka Belanda membuat persinggahan ( pos penjagaan ) untuk memeriksa orang-orang yang datang dari daerah seberang yang melintasi Passo. Mereka harus menunjukan Pas ( surat jalan ). Jika Pas yang ditunjukan itu memang benar, maka Belanda menyebutnya dengan kata So. Akhirnya kedua kata itu menyatu dalam sebutan Passo. 

Sementara dalam bahasa tanah, Passo dalam arti sebenarnya ialah Paukalla artinya daerah atau tempat yang berkedudukan ditengah-tengah Jasirah Leihitu dan Leitimur sebagai pusat genting tanah Baguala ( Pulau Ambon ). Dari berbagai versi dapatlah dikatakan bahwa Passo memiliki makna berada di tengah-tengah.

Sementara para penduduk mempercayai nenek moyang asli Negeri Passo terbagi atas tiga kelompok. Kelompok yang pertama datang pada pertengahan abad ke-14 dengan menggunakan buaya sebagai alat transportasi mereka. Buaya ini bernama “Pakuela” ( artinya : tertancap, tinggal dan menetap ) dan berlabuh di Pelabuhan Baguala. Setelah berlabuh rombongan ini melanjutkan perjalanan ke daerah pegunungan yaitu “Gunung Ariwakang” yang berbatasan dengan Hitu dan menetap di situ.

Di tempat ini bermukim sepuluh kepala keluarga yang terbagi dalam empat mata rumah yaitu Titariuw, Simauw, Tuatanassy dan Parera. Rombongan ini dipimpin oleh seorang kapitan yaitu Kapitan Tuatanassy. Konon katanya dulu Titariuw dan Simauw ( kakak dan adik ) berasal dari satu mata rumah yaitu mata rumah Titariuw.  Namun pada suatu saat Titariuw dan adiknya turun ke laut untuk bameti (mencari ikan ) tapi mereka dikejar oleh bangsa mata kucing ( sebutan untuk bangsa Portugis) mereka pun lari ke gunung namun sang adik pun tertangkap karena sang adik telah tertangkap si kakak pun berjalan mundur agar menghilangkan jejak dan mendorong sebuah batu untuk menghalangi jalan ke negeri, batu ini dikenal dengan nama “Batu Pele”. Sampainya dia di negeri, dia pun diangkat menjadi pemimpin di negeri tersebut dengan gelar “Raja Hutan”.

Namun, pemerintahannya tidak bertahan lama karena terjadi peperangan di Hitu yang mengancam keselamatan mereka sehingga mereka memutuskan untuk mencari tempat baru yang aman untuk dihuni.Sebelum melakukan perpindahan, mereka mengadakan musyawarah di baileo tua  (berupa pohon beringin yang dilingkari lilitan tujuh gelang emas)

Dari hasil musyawarah tersebut diambil keputusan untuk menggulingkan batu guna mencari pemukiman yang baru. Batu tersebut digulingkan melalui pintu muka gunung dan melewati  Ohouw ( pesisir pantai Negeri Lama sekarang ) dan berhenti di Teluk Dalam. Untuk mengenang batu tersebut maka dibangun sebuah gereja yang posisinya sejajar dengan batu. Di Ohouw Titariuw dan adiknya sempat berkumpul.

Akhir abad ke-14 datang rombongan ke-2 dari Pulau Seram dan tiba di teluk Tomatala (teluk Baguala ) di pantai Sikabiri dan Larier setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dan mendiami lokasi Amamoni di pegunungan Tahola. Setelah agama Islam masuk Rombongan ini terdiri atas beberapa mata rumah yaitu Latupela, Sarimanela, Termature, Wattimury. Abad ke-15 menyusul rombongan ke-3 dengan perahu belang tiba di labuhan Tomalima di pantai Wayori. Kemudian menuju ke Amaory dan berdomisili disitu. Rombongan ini terdiri atas beberapa mata rumah yaitu Risampessy, Tuhilatu, Tomaluweng, dan Matuwalatupauw.

Abad ke-16 ( 1610 ) Belanda masuk menggantikan Portugis dan bertemu dengan penduduk yang sedang bameti. Kemudian meminta  untuk bertemu dengan pemimpin mereka yaitu Kapitan Tuatanassy. Namun kapitan tidak mau turun dan mengirim dua utusan yaitu Titariuw dan adiknya sesampainya di bawah Belanda bersikeras untuk bertemu dengan Kapitan Tuatanassy  sehingga Belanda menyuruh Titariuw kembali memanggil Kapitan akan tetapi kapitan Tuatanassy  tak kunjung datang. Karena hal inilah Belanda bertanya kepada Adiknya Titariuw “se mau jadi raja?” dan orang tersebut menjawab “mau” dan dia diangkat oleh Belanda menjadi raja, sejak saat itulah ia disebut “Upu Latu Simauw”. 


Saat bangsa Portugis masuk penduduk Negeri Passo beralih dan memeluk agama Kristen Katholik yang dirintis oleh tokoh pekabaran injil Franxiscus Xaverius.  Namun, setelah Belanda menggantikan Portugis dan berkuasa di Ambon sejak tahun 1605 maka jemaat-jemaat Katholik menjadi jemaat Protestan. Perkembangan gereja Protestan pada abad ke-17 dan ke-18 sangat suram terutama di Maluku ( Ambon ). Barulah dengan hadirnya pekabaran injil Pdt. Joseph Kham, gereja dapat berkembang lagi berkat usaha-usahanya yang keras.

Dan pada zaman pemerintahan Raja Karel Riddof Simauw direncanakan pembuatan sebuah gedung gereja yang representatife dan permanent direncanakan pendiriannya pada tahun 1895 tetapi baru bisa terlaksana pada tahun 1904. Peletakan batu pertama bangunan gereja baru dilakukan oleh Pdt. Leter Bour Van Waay dan Raja R. K. Simauw pada tanggal 19 Mei 1964. dan yang menjadi tukang dari bangunan ini adalah Bapak Benjamin Tanahitumesing anak negeri Passo sendiri. Gereja ini direhab dan direnovasikan dan sekarang dinamai “Gereja Menara Iman”. 

Demikianlah Legenda Desa Passo, adakah Legenda Desa Passo versi Pembaca? Nantikan Sejarah dan Legenda Mollucastimes berikutnya. (MT)

Diolah dari berbagai sumber

Posting KomentarBlogger

  1. Ketika kita menulis suatu sejarah atau legenda d medsos...harusnya memiliki data yg falid...karena sewaktu-waktu tulisan ini juga bisa saja di pakai sebagai referensi....ketika suatu referensi salah mka tulisan yg di baca anak cucu kita nantinya akan simpang-siur, nasukan saya, coba ditelusuri dulu sejarahnya barubdi angkat sebagai tulisan ilmiah yg faktual

    BalasHapus
  2. yg carita Legenda Negeri Passo ini siapa..? kalao cerita 1926 masih panyak marga (Fam)yg seng ada di tulisan anda, conto Matualattupau, Turmatuere bahkan bahkan ada beberapa Fam yg hilang, jadi beta sebagai anak passo harap ale dong jang carita sejarah Negeri Passo sambarang.. jangan membohongi generasi Passo Baguala. terima kasih.

    BalasHapus
  3. Kalo mau cerita sebuah sejarah harap di crosscek dulu. Jangan ada yg ditambah dan jangan ada yg di kurangi. Karna yg nama nya sejarah itu sakral. Alias modal buat pengetahuan generasi yg akan datang. Kesimpulan nya adalah bahwa penjelasan dan cerita di atas masih mengandung banyak kesalahan. Kenapa saya sebut salah karna saya orang Passo dan sejarah yg saya belajar dari orang tua saya tidak begitu.Cuman masukan saja dari saya. Terima kasih

    BalasHapus
  4. Sejarah yg ditulis blm sesuai dengan yg sebenarx, beta sebagai anak adat negeri passo, merasa risih dengan sejarah yg di copy paste dari sumber yg salah, untk yg tulis sejarah ini, beta cuma mau kasih tau, sejarah negeri passo tidak trjadi sperti yg ale tulis, ada cerita lain di belakang it yg menjadi janji untuk tidak di ungkapkan, beta pernah pelajari sejarah ini, dan apa yg beta dapat seng sesuai dengan yg ditulis, sejarah negeri passo harus di tutur sebagai mana mestinya, untuk info saja, seblum orang orang dari seram datang mendiami gunung eriwakang, sudah ada kelompok masyrakat yg tinggal di daerah itu, dan sebelum dorang turun ke negeri passo yg sekarang, dulu ada 10 matarumah yg tinggal di situ, dan nama daerah itu juga bukan nama passo, nama passo terbentuk saat bangsa mata kucing datng ke daerah itu, tapi sebelum itu juga, daerah itu sdah punya nama sendiri

    BalasHapus

 
Top