Legenda Asal Mula Air Majapahit di Negeri Ema, Kota Ambon


Mollucastimes.Com- Pembaca Mollucastimes yang setia, Pembaca yang berdomisili di Kota Ambon mungkin sudah tidak asing dengan salah satu desa yang berada tepat diantara Negeri Kilang dan Negeri Hukurila kota Ambon. Ya, itu adalah negeri Ema. Negeri Ema atau sering disebut Ema Huaresi Rehung merupakan salah satu negeri kecil  yang ada di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.

Negeri Ema memiliki Ikatan kekerabatan kultural (Gandong) dengan Desa Batu Merah dan Batu Putih/Teluti, dan (Pela) dengan Negeri  Ameth-Samasuru Amalatu di Pulau Nusalaut.

Di Negeri Ema banyak memiliki peninggalan sejarah , salah satunya adalah Air Majapahit .

Ingin tahu ceritanya ? Mari kita simak. 

Konon ceritanya, pada abad ke 14 seorang putri raja dan rombongan dari kerajaan Majapahit diutus oleh Paduka Raja untuk bersekutu dengan para Kapitan di bagian timur wilayah Nusantara. 

Ada beberapa kapitan di wilayah timur ( Maluku ) antara lain Kapitan TANAHATU MESENG atau Kapitan Kerajaan Hitu. Salah satu Kapitan perkasa di Leitimor adalah Kapitan Negeri Ema TANIHATUILA. Ada tiga kapitan besar dengan gelar TANIHATUILA yaitu Kapitan Maading, Maadong dan Maanaeng. 

Ketiganya sering disebut ADING, ADANG dan ANAHANG atau TANIHATUILA atau UPU KANO POHIHATO PAIPO ILA HO. Sehingga orang – orang menduga hanya satu Kapitan, padahal sesungguhnya ada tiga kapitan . hal itu sering mengelabui kapitan-kapitan negeri lainnya.

Putri Paduka Raja Majapahit secara khusus diutus untuk bersekutu dengan kapitan TANIHATUILA dari Negeri Ema. Dalam pelayarannya sang putri membawa peta, gendi emas sebagai tempat air minum, tombak dan seperangkat gending/gamelan (totobuang). Pada pinggangnya terselip sebuah keris pusaka untuk menghadapi kesaktian Negeri Ema. 

Setelah tiba dipesisir utara pantai Pulau Ambon mereka mendaki gunung menuju negeri HUARESI REHUNG ( Ema ). Di puncak gunung mereka beristirahat, Tuan Putri di kelilingi oleh para dayang-dayang.

Datanglah salah seorang pengawalnya dan melaporkan bahwa ‘batu tempat saya menancapkan tombak keluar air jernih’. Mereka melihat kejadian itu dan tuan putri menamakan tempat itu Batu Minum Air, dan air itu digunakan sebagai air minum saat mereka makan disitu. Setelah makan, tuan putri memohon diri untuk bersemedi. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba datanglah seorang pengawal dam melapor bahwa ‘Jalan di depan sangat menurun dan terjal, kita harus turun sambil duduk’. Karena kondisi perjalanan seperti itu maka tempat itu dinamakan LOSARU. Dari LOSARU sudah terlihat negeri HUARESI REHUNG. 

Hal itu dilaporkan pengawal kepada tuan putrid ‘ tuan putri negeri Huaresi sudah kelihatan dari sini. Baiklah kita beristirahat untuk melihat-lihat situasi, sambil kita makan malam dan minum untuk melanjutkan perjalanan’.

Saat beristirahat sang tuan putri menyuruh pengawal mengambil sebuah peta dan melihat keberadaan negeri itu. Sang putri berkata ‘kita harus masuk negeri ini dari sebelah barat, sebab dibagian utara ada benteng pertahanan Huaresi dengan malesi-malesi saktinya’. Berkemaslah mereka menuju sebelah barat Huaresi. Namun sang pengawal melihat ada seorang memanjat pohon, sepertinya melakukan pengintaian. Pengawal segera menemui orang itu dan menanyakan apakah dia adalah anak Huaresi. Lalu pengawal mengajak dia untuk bertemu sang putri. Putri lalu memberi hormat kepada pria itu dan orang itu bertanya, ‘Nona dari mana’.

 ‘saya dari Jawa Dwipa, ingin bertemu dengan kapitanmu; dan nama saya Nyai MAS KENANG EKO SOETARMI’ kata putri. 

‘beta adalah Malesi Soa-Lisa’ Kata anak Huaresi memperkenalkan dirinya.

 Di Losaru terjadi percakapan antara ni Mas dengan Malesi Soa-Lisa. Malesi Soa-Lisa mengantarnya kesuatu tempat yang bernama SABUA. Ia membicarakan maksud kedatangannya dengan Malesi Soa-Lisa yaitu untuk bersekutu dengan kapitan Ema dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan Majapahit.

Melalui beberapa proses baru Malesi Soa-Lisa menghadap Kapitan Negeri Ema, katanya ‘Tabea kapitano Tanihatuila, beta datang untuk lapor bahwa rombongan Putri Majapahit dari Jawa Dwipa sudah datang. Mereka menunggu di ujung sebelah barat. Jadi mereka sudah tiba’ ujar Soa Lisa melapor. 

.‘Beta sudah tauh sebelum mereka datang, jadi nanti katong akan pergi’  kata kapitan. 

Kapitan memanggil malesi negeri (Pari) untuk mengumpulkan semua Jou-jou (Kepala-kepala soa) dan tua-tua negeri untuk bermusyawarah di baileu. Ada yang menolak kedatangan sang putri, ada pula yang memuji kesaktian sang putri. Akhirnya diputuskan untuk bertemu dengan tuan putri. Namun sebelum pergi menemui putri Majapahit itu, kapitan sudah bapake diri (mengisi diri dengan ilmunya).

Perkenalanpun terjadi antara ADING ADANG ANAHANG dengan Nyai MAS KENANG EKO SOETARMI. Sang putri kembali menyampaikan maksudnya. Tetapi smeuanya ditolak oleh kapitan dengan alasan tanahnya tidak boleh dijajah oleh orang lain, sebab dia yang harus memerintah sendiri. Kapitan sangat marah dengan permintaan putri tersebut. Sang putri gelisah dan murung, akhirnya sang putri memanggil pengawalnya untuk membawa gendi air minum yang dibawa dari Jawa dan meminta pengawalnya memanggil Soa - Lisa.

Pengawal tersebut memanggil Malesi Soa-Lisa sesuai permintaan sang putri. Sang putri member gendi itu kepada Malesi Soa-Lisa dan berkata ‘letakan gendi ini di dusun Losaru, maka dia akan mengeluarkan air jernih menjadi mata air tanda sejarah bagi anak cucumu turun-temurun’. Kata sang putri. 

 Ia juga menyerahkan tombak pusaka seperangkat gamelan dan tempat dupa dari tembaga (tempat sirih tembaga). Sang putri berpesan kepada pengawalnya ‘kamu harus pulang ke Jawa dan kabarkan kepada Paduka Raja saya telah gagal dan tidak akan pulang ke Majapahit’ kata sang putri lirih.

Kemudian putri memberikan selarik kertas kepada Malesi Soa-Lisa, lalu menjauhkan diri untuk bersemedi. Dengan menggunakan ajian yang diberikan gurunya ia mengilang. Malesi Soa-Lisa menanam gendi emas yang diberikan itu, dan tiba-tiba gendi itu mengeluarkan air jernih. 

Hingga saat ini air yang keluar dari gendi secara ajaib itu dinamakan AIR MAJAPAHIT. Air itu , sebagai pusaka sejarah negeri HUARESI REHUNG. 

Sesudah kejadian iti Malesi Soa-Lisa menghadap Kapitan untuk menyerahkan larik kertas yang diberikan Ni mas. Adapun isinya ialah (bahasa tanah teluti). ‘ Tale pata-pata ru poso-poso upu re ona ina re pata ina we ona ina ome tatawae sakulu tata ona alokae sopa-sopa kona ina o tauru kalo mae wora ita maawae sopa-sopa kalo ika hita mao ne’  yang  Artinya ‘ Banyak pendatang akan ke negeri sini hanya  satu yang pewaris sabar dan penuh saling mengasihi hai pewaris-pewarisku manusia sejati oleh diri jangan baku hantam apa yang kulaksanakan bukan tugas tetapi amal baktiku padamu’. 

Setelah membaca surat itu Malesi Soa-Lisa berkata ‘dengarlah Upu-upu Ama Upu-upu Ina, jagalah tombak pusaka dan peliharalah Air Majapahit menjadi sumber sejarah bagi anak cucu kita’.

Sampai saat ini benda-benda tersebut masih ada menjadi bukti sejarah bagi HUARESI REHUNG, anak negeri  Emaa. Tempat ini biasanya disebut Perigi (sumur) Majapahit, dan menjadi sumber air Soa Lisa (Maitimu). Rutinitas yang dilakukan sampai sekarang bahwa, setiap tanggal 19 Desember sumber-sumber air soa itu dibersihkan termasukperigi majapahit. (**)

Diambil Dari Berbagai Sumber


Posting Komentar

Sekedar informasi untuk penulis, mohon di cek kembali untuk gandong ema itu kakak laki-laki yang tua desa Batu Merah (Hatukao), kemudian adik laki-laki no.2 itu Batu Itam (Ema / Hatumete), setelah itu yg bungsu adik perempuan Desa Hunissi (Hatuputi) yang terletak di kecamatan Teluti kab. Maluku Tengah... untuk pela juga ada dengan Negeri Naku...

sejak kapan orang mauluku mau tunduk sama orang jawa itu hal yg mustahil.orng maluku anak2 kesatria patimura lebih baik mati dari pada hidup di jajah orng asing di tanah sendiri

[facebook][blogger]

Ok

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget