0
salah satu pelopor damai saat konflik Ambon
Ambon,MollucasTimes.com-Masyarakat Negeri Passo, Kecamatan Baguala, hari ini menyatakan belasungkawa atas berpulangnya salah satu Srikandi Negeri yang pada masanya mendedikasikan hidup selama 21 (dua puluh satu) tahun melayani masyarakat sebagai Raja.

Theresia Maitimu Simauw, nama srikandi yang tangguh tersebut memulai pelayanan sebagai Raja Negeri Passo sejak tahun 1984 hingga 2006.

"Beliau memangku jabatan sebagai Raja selama dua periode yaitu tahun 1984 hingga 1992 dalam masa pemerintahan Wali Kota Ambon, Albert Poerwaila. Dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1993 hingga 2006. Jadi, total beliau memerintah di Negeri Passo adalah 21 tahun," cerita suami almarhumah, Drs. Izaac Maitimu kepada mollucasTimes, usai acara pemakaman istri tercinta, Minggu 12/07/2020.

Maitimu menceritakan, sebagai pemimpin di Negeri Passo ada sejumlah bentuk perhatian yang dicurahkan baik dalam bentuk fisik maupun juga secara sosial.

21 tahun mengabdi untuk Negeri Passo
"Secara fisik, beliau telah membangun Kantor Negeri Passo dua lantai yang ada sampai saat ini. Kmeudian juga membangun Gedung PKK, namun dikarenakan Negeri Passo kesi]]ulitan lahan untuk membangun Puskesmas, maka gedung PKK tersebut kemudian disulap menjadi Puskesmas sehingga masyarakat Negeri Passo bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai," urai ayah enam anak ini.

Dikatakan, Negeri Passo dalam masa kepemimpinan Ibu Raja selalu menjadi lokasi tinjauan yang dilakukan oleh lembaga legislatif pusat.

"Beberapa kali, DPR RI melakukan tinjauan dan kunjungan. Dalam beberapa hal mereka lebih memilih Negeri Passo sebagai tujuan kunjungan kerja. Bahkan DPR RI yang kala itu diketuai Pak Marbun sempat memuji Negeri Passo yang telah memiliki kantor representatif berlantai dua. Sebab pada era tersebut belum ada gedung kantor Negeri atau Desa yang seperti dimiliki Negeri Passo. Pak Marbun sempat bertanya juga apakah bangunan kantor Negeri ini dibangun dengan anggaran pemerintah. Untuk diketahui, pembangunan kantor Negeri Passo dibangun berdasarkan swadaya masyarakat. Itulah yang membuat mereka terpukau dan memuji kinerja beliau," tandasnya.

Srikandi Negeri Passo
Selain secara fisik, lanjut Pak Cak, demikian beliau disapa, Ibu Raja juga mengupayakan perdamaian dalam masa konflik.

"Upaya perdamaian yang dilakukan sangat diresponi oleh masyarakat terutama masyarakat Muslim saat kita ada dalam konflik sosial 1999 lalu khususnya persaudaraan Pela Gandong dengan Negeri Batu Merah. Bagaimana cara merangkul masyarakat dalam masa konflik diantaranya dengan membantu pembangunan salah satu Masjid di Batu Merah, yaitu  mengirimkan batu dan pasir untuk proses pembangunan Masjid. Semangat dan upaya yang dilakukan beliau untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat dalam masa konflik menjadi sesuatu yang luar biasa," tuturnya.

Catatan penting yang akan menjadi kenangan bagi anak cucu adalah Ibu Raja sempat diundang oleh Yusuf Kalla untuk menghadiri Konferensi Malino yang membicarakan tentang perdamaian serta pembentukan Tim Bakubae Maluku.

"Memang saat itu beliau tidak sempat menghadiri konferensi Malino dan diwakilkan oleh Raja Negeri Ema, Pak Emus Dias. Namun dasar yang beliau letakan untuk masyarakat menjadi modal untuk terus melangkah menciptakan perdamaian dalam bentuk hidup sosial yang harmonis.
Pernah  kami diundang untuk menghadiri peletakan atap Masjid di Negeri Lima saat konflik, itu dalam masa pemerintahan Gubernur Saleh Latuconsina. Dan Pak Gubernur saat itu kaget, Ibu Raja bisa hadir di tengah suasana yang tidak stabil. Itulah hati Raja yang mau turun hingga akar rumput untuk menyatakan bahwa damai itu indah," tutur salah satu mantan pejabat di lingkup Pemerintah Provinsi Maluku ini.

suasana duka keluarga Maitimu Simauw
Theresia Maitimu Simauw lahir pada 24 November 1946, merupakan anak ke 4 (empat) dari 6 (enam) bersaudara. Almarhumah meninggalkan suami, 6 (enam) orang anak serta 9 (sembilan) orang cucu yang cantik dan ganteng. Dirinya meninggal akibat sakit yang diderita selama bebarapa tahun terakhir.

Theresia telah meninggalkan hal baik yang akan menjadi teladan bagi para Raja berikutnya di Negeri Passo.

"Ada orang yang bertanya mengapa Passo disebut Desa tetapi pemerintahan disebut Raja. Sebenarnya dalam UU nomor 579 tentang Pemerintahan Desa, namun dikarenakan status adat dan garis keturunan maka seluruh keturuan mereka disebut Raja. Ini membuktikan juga bahwa di Negeri Passo hanya ada satu mata rumah Parentah yaitu Simauw," tegas lelaki paruh baya ini.

Hari ini satu srikandi boleh pergi, namun akan bangkit srikandi-srikandi lainnya yang akan memperjuangkan kehidupan sosial harmonis yang berdampingan seperti yang dilakukan Theresia. Semoga, Paukala Mandalise!!!(MT-01)

Posting KomentarBlogger

 
Top