0

Jakarta,MollucasTimes.com-Covid-19 juga merupakan salah satu ancaman bencana non alam yang harus menjadi perhatian. 

Demikian Kepala BNPB RI, Doni Moenardo di sela pemberian Penghargaan kepada 15 (lima belas) Kepala Daerah pada acara puncak peringatan Bulan (PBR) 2020 di Aula Sutopo Purwo Nugroho, lantai XV kantor BNPB Jakarta, Selasa 13/10/2020.

"Pandemi  merupakan ancaman bencana non alam yang hingga saat ini telah merenggut lebih dari 1 (satu) juta korban yang meninggal sedangkan yang terkonfirmasi positif 35 (tiga puluh lima) juta jiwa lebih secara Internasional. Sedangkan secara Nasional, di Indonesia ada 300 (tiga ratus) ribu orang terkonfirmasi, 250 (dua ratus lima puluh) ribu dinyatakan sembuh, tetapi angka kematian masih berada diatas yaitu sekitar 11 (sebelas) hingga 12 (dua belas) ribu orang," paparnya.

Dikatakan, hal ini membuktikan bahwa Covid-19 bulan rekayasa. "Kondisi dan situasi sekarang harus menjadi perhatian kita bersama. Covid ini nyata sehingga jangan ada yang mengatakan bahwa Covid adalah rekayasa atau adanya konspirasi dibalik itu. Bayak orag yang terpapar bahkan berpotensi terpapar juga. Karenanya perlu saling mengingatkan bahwa ancaman bisa berasal dari orang terdekat tanpa gejala," tegasnya.

Menurutnya, sosialisasi masih harus dilakukan mengingat 17 (tujuh belas) persen masyarakat yang merasa tidak mungkin terpapar Covid.

"Menjadi tantangan berat bagi kita karena harus menyampaikan pesan bahwa Covid memang benar nyata dan ada di sekitar kita sebab rata-rata yang menyebarkan penularan bisa jadi adalah orang terdekat. Saya berkesimpulan, orang terdekat atau biasa kita sebut orang tanpa gejala sagat berbahaya, mereka adalah Silent Killer atau pembunuh potesial, dimana mereka tidak mengetahui bahwa mereka sudah terpapar dan menyebarkan ke orang-orang potensial yang terdekat mereka. Bisa saja lansia atau mereka yang memiliki penyakit penyerta," terangnya.

Untuk menangani hal tersebut, lanjutnya, Pemerintah Pusat terus berupaya menyiapkan alat deteksi berupa swab PCR di seluruh wilayah Indonesia.

"Pemerintah berupaya menyediakan swab PCR, walaupun memang belum merata. Ini untuk deteksi dini, sehingga orang tanpa gejala bisa mendeteksi tubuhnya," imbuh pria tampan ini.

Sementara itum ancaman alam juga mulai mengancam. "Data yang kita terima dari BMKG dalam waktu kedepan kita akan berhadapan dengan La Nina. Curah hujan tinggi mulai kini sampai pada Februari atau Maret mendatang. Tantangan ini juga berat kedepan. Tahun 2019 lalu pada bulan seperti ini terjadi kebakaran yang masif, di Jawa juga kesulitan air. Anomaly cuaca sementara melanda semua negara di dunia. Dan tidak ada negara yang siap hadapi ancaman bencana alam, olehnya kita harus bekerja keras, jaga ekositem di sekitar kita khususnya menghadapi acaman La Nina," tandas mantan Panglima Daerah Militer  XVI Pattimura ini.

Karena itu, pihaknya meminta semua daerah agar memberikan informasi jelas yang berasal dari BMKG kepada masyarakat agar masyarakat siap. 

"Lakukan apel kesiapsiagaan di seluruh wilayah sampai tingkat RT/RW untuk cek kesiapan mulai tempat pengungsian sementara, dapur lapangan dan kebutuhan dasar lain," pintanya. (MT-01)

Posting KomentarBlogger

 
Top